Minyak Turun untuk Hari ke Tiga, Pasar Menimbang Deal Nuklir AS–Iran
Harga minyak turun untuk hari ketiga berturut-turut, seiring investor menilai peluang tercapainya kesepakatan nuklir antara Washington dan Teheran—yang berpotensi meredakan risiko serangan militer AS terhadap Iran. Pergerakan minyak masih sangat sensitif terhadap headline Timur Tengah, sehingga perubahan narasi diplomasi dapat cepat mengikis atau menambah premi risiko pada harga.
Kontrak WTI turun sekitar 1% dan ditutup di bawah US$66 per barel, sementara Brent ditutup di bawah US$71. Pelemahan terjadi setelah beredar laporan yang mengindikasikan Iran siap mendorong tercapainya kesepakatan sesegera mungkin, meski pasar masih menilai peluang realisasinya dengan skeptis.
Penurunan harga tidak berlangsung agresif karena tanda-tanda eskalasi belum benar-benar hilang. Pasar tetap memperhatikan meningkatnya akumulasi aset militer AS di kawasan dan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan kegagalan kesepakatan akan menjadi situasi yang “sangat buruk” bagi Iran. Dalam konteks seperti ini, harga sering bergerak “tarik-menarik” antara harapan de-eskalasi dan risiko eskalasi yang sulit dikendalikan.
Dari sisi risiko pasokan, perhatian terbesar pasar tetap mengarah ke Selat Hormuz—jalur vital yang menangani sekitar seperempat perdagangan minyak via laut dunia dan juga krusial bagi pasar LNG. Ancaman gangguan di jalur ini, bahkan tanpa penutupan total, dinilai cukup untuk memicu repricing cepat pada crude apabila tensi memburuk.
Perundingan nuklir dijadwalkan berlanjut Kamis di Jenewa, dan pertemuan ini dipandang sebagai titik penting untuk menilai apakah jalur diplomasi mampu menurunkan premi geopolitik, atau justru memperpanjang ketidakpastian. Pada fase seperti ini, pelaku pasar cenderung “membeli perlindungan” melalui posisi hedging, sehingga volatilitas tetap tinggi meski harga sedang melemah.
Menariknya, kenaikan minyak sepanjang tahun ini terjadi meski banyak proyeksi sebelumnya memperkirakan pasar akan menghadapi potensi surplus pasokan global. Sejumlah pelaku industri mulai menilai kekhawatiran oversupply tidak sekuat perkiraan awal, terutama bila permintaan bertahan lebih solid dari ekspektasi.
Di pasar turunan, sinyal kehati-hatian juga terlihat dari dinamika struktur harga dan biaya pengiriman. Pelaku pasar menilai risiko geopolitik terutama akan “terbukti” bila muncul tanda gangguan nyata—baik dari pengetatan produk, perubahan struktur kurva yang lebih tajam, maupun tekanan pada logistic.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id