Geopolitik Dorong Minyak Dekati Tertinggi 7 Bulan
Harga minyak menguat pada Selasa (24/2) dan mendekati level tertinggi dalam tujuh bulan, ketika pelaku pasar menilai potensi risiko pasokan akibat kemungkinan eskalasi militer menjelang putaran baru pembicaraan nuklir AS–Iran. Kenaikan didorong oleh meningkatnya premi risiko, meski belum ada gangguan pasokan yang terjadi secara nyata.
Kontrak berjangka Brent naik 48 sen (0,7%) ke US$71,97 per barel pada pukul 06.58 GMT, sementara WTI menguat 45 sen (0,7%) ke US$66,76 per barel. Brent berada di level terkuat sejak 31 Juli, sedangkan WTI mencatat posisi tertinggi sejak 1 Agustus.
Sejumlah analis menilai penggerak utama kenaikan kali ini adalah faktor geopolitik. Phillip Nova menyebut kekuatan harga minyak saat ini lebih banyak ditopang oleh antisipasi, bukan kehilangan pasokan yang sudah terjadi. Dengan kata lain, pasar sedang “memasukkan” skenario risiko terburuk ke dalam harga.
Putaran ketiga perundingan nuklir AS–Iran dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Oman. Pemerintah AS mendorong Iran untuk menghentikan program nuklirnya, sementara Iran menolak dan menegaskan tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir. Ketegangan ini membuat sentimen pasar sangat reaktif terhadap perkembangan diplomasi dan retorika.
Kekhawatiran eskalasi meningkat setelah Departemen Luar Negeri AS menarik personel non-esensial beserta keluarga dari Kedutaan AS di Beirut. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump kembali memperingatkan bahwa akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika kesepakatan tidak tercapai—pernyataan yang memperkuat persepsi risiko konflik.
Dari sisi teknikal, OANDA menilai faktor geopolitik kemungkinan tetap menjadi pendorong utama harga minyak dalam jangka pendek. Untuk WTI, dinamika bullish jangka pendek masih terlihat selama harga bertahan di atas rata-rata bergerak 20 hari, dengan area sekitar US$63,90 dipandang sebagai penopang penting.
Di luar geopolitik, pasar juga memantau kebijakan perdagangan AS. Trump memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan, dan membuka kemungkinan penerapan tarif lebih tinggi melalui dasar hukum lain.
Analis UOB menilai ketidakpastian tarif berisiko menekan prospek pertumbuhan global dan permintaan energi, sehingga membuat harga minyak sensitif terhadap perubahan sentimen—diapit antara premi geopolitik dan kekhawatiran permintaan. (yds)
Sumber: Newsmaker.id