Minyak Naik Tipis, Pasar Menimbang Peluang Deal Nuklir AS–Iran
Harga minyak bergerak menguat pada Selasa seiring pelaku pasar menilai kembali peluang tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan ia lebih memilih solusi diplomatik, namun juga memperingatkan akan ada konsekuensi serius bila kesepakatan tidak tercapai.
Dalam perdagangan Asia, Brent bertahan di sekitar US$72 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$67. Kenaikan ini terjadi setelah penutupan sesi sebelumnya yang relatif stabil, menandakan pasar masih “menunggu kepastian” menjelang perundingan berikutnya.
Negosiasi nuklir dijadwalkan berlanjut Kamis di Jenewa. Pasar menilai, hasil pembicaraan akan menjadi penentu apakah premi risiko energi berkurang (jika ada kemajuan diplomasi) atau justru meningkat (jika tensi memanas).
Kekhawatiran eskalasi turut didorong oleh meningkatnya postur militer AS di kawasan. Reuters melaporkan AS menarik personel non-esensial dari kedutaannya di Beirut, sebuah sinyal kehati-hatian yang memperkuat persepsi risiko konflik.
Sejumlah analis menilai pasar minyak saat ini berada dalam fase “holding pattern” bergerak terbatas namun tetap menempel pada headline Iran. Dalam kondisi ini, retorika de-eskalasi pun cenderung disikapi dengan skeptis hingga ada bukti kemajuan nyata di meja perundingan.
Fokus utama pasar tetap pada Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan LNG dunia. Risiko gangguan arus pengiriman sekecil apa pun dapat memicu lonjakan harga karena dampaknya langsung terhadap pasokan global.
Dari sisi harga terbaru, Reuters mencatat Brent naik ke sekitar US$72,08 dan WTI ke US$66,88, mendekati level tertinggi beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini lebih banyak mencerminkan premi risiko ketimbang gangguan pasokan yang sudah terjadi.(asd)
Sumber : Newsmaker.id