Minyak Turun, Pasar Pantau Deal Nuklir AS - Iran
Harga minyak melemah karena investor menimbang peluang tercapainya kesepakatan nuklir antara AS dan Iran. Fokus pasar tertuju pada negosiasi lanjutan yang akan berlangsung di Jenewa, di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah yang membuat sentimen tetap rawan berubah.
Brent turun mendekati US$71 per barel setelah pada Jumat ditutup hampir tidak berubah, meski Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran. Pada Senin, tekanan jual berlanjut di kedua acuan, termasuk minyak mentah WTI.
Dari sisi diplomasi, Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut peluang solusi diplomatik masih terbuka dan mengarah pada hasil yang saling menguntungkan. Ia mengatakan berharap bertemu utusan khusus AS Steve Witkoff untuk pembicaraan di Jenewa, sehingga pasar menilai jalur negosiasi berpotensi meredakan premi risiko geopolitik.
Meski harga turun hari ini, minyak sempat reli di awal tahun walau banyak proyeksi memperkirakan pasar menuju kelebihan pasokan global. Kenaikan tersebut didorong kekhawatiran konflik AS–Iran yang memicu aktivitas lindung nilai di pasar futures dan opsi. Pelaku pasar menilai harga bisa berubah cepat bila pasokan terganggu, terutama jika ekspor Iran terpukul atau ada gangguan di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan LNG dunia.
Menariknya, indikator struktur pasar menunjukkan tensi risiko mulai “mendingin”. Prompt spread Brent (selisih dua kontrak terdekat) menyempit ke sekitar 43 sen per barel, jauh lebih kecil dibanding lebih dari US$1 pada akhir Januari, meski masih berada dalam backwardation yang bullish. Pada perdagangan Senin sore di Singapura, Brent April turun sekitar 1% ke US$71,02/barel, sementara WTI April melemah 1,1% ke US$65,74/barel.(alg)
Sumber: Newsmaker.id