Minyak Menuju Gain Mingguan Pertamanya Dipicu Tensi Iran-AS
Harga minyak bergerak dekat level tertinggi sekitar enam bulan pada Jumat (20/2), dan berada di jalur mencatat kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan. Sentimen bullish dipicu kekhawatiran pasar atas potensi konflik, setelah Washington memperingatkan Tehran akan “menanggung akibat” bila tak mencapai kesepakatan nuklir dalam hitungan hari.
Pada perdagangan siang, Brent turun tipis sekitar 0,5% ke $71,33/barel, sementara WTI melemah sekitar 0,4% ke $66,18/barel. Meski koreksi kecil, secara mingguan keduanya masih naik sekitar 5,3%, menegaskan besarnya premi risiko yang sedang dipasang pasar.
UBS menilai pelaku pasar kini menunggu bagaimana tensi Timur Tengah berkembang sepanjang akhir pekan, sehingga dorongan untuk “ambil untung” terlihat terbatas. Dengan risiko headline yang bisa berubah cepat, banyak trader memilih menahan posisi ketimbang menutupnya menjelang weekend.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyebut Iran punya waktu 10–15 hari untuk menyepakati pembatasan program nuklirnya—kalau tidak, “hal yang sangat buruk” bisa terjadi. Sementara itu, Iran dikabarkan merencanakan latihan laut bersama Rusia, beberapa hari setelah sempat menutup Selat Hormuz sementara untuk latihan militer.
Selat Hormuz kembali jadi titik krusial karena sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini. Jika konflik membuat arus pengiriman terganggu, pasokan ke pasar global bisa mengetat cepat—dan harga berpotensi naik lebih jauh.
Selain geopolitik, minyak juga mendapat dukungan dari data fundamental AS: persediaan minyak mentah AS turun sekitar 9 juta barel menurut EIA, seiring utilisasi kilang dan ekspor meningkat. Di pasar derivatif, minat pada opsi call Brent juga meningkat dalam beberapa hari terakhir—tanda sebagian pelaku pasar memasang taruhan harga masih bisa lanjut naik.(yds)
Sumber: Newsmaker.id