Minyak Siap Cetak Kenaikan Pekanan, Pasar Waspada Iran
Harga minyak berada di jalur mencatat kenaikan mingguan lebih dari 5%, terdorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar atas potensi aksi militer AS terhadap Iran jika negosiasi nuklir tidak mencapai kesepakatan. Risiko geopolitik ini membuat pelaku pasar kembali memasang “premi risiko” lebih besar pada harga.
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran punya waktu sekitar 10–15 hari untuk mencapai deal. Menurut analis ING, kegagalan mencapai kesepakatan dalam jangka waktu tersebut berpotensi memicu tindakan militer AS terhadap Iran, meski pasar masih menimbang skenario dan skalanya.
“Pertanyaan kuncinya” menurut ING adalah: jika aksi militer terjadi, seberapa lama operasi itu berlangsung dan apa tujuan akhirnya. Ketidakpastian ini penting karena durasi dan target operasi akan menentukan dampaknya terhadap pasokan minyak, jalur pengiriman, dan sentimen risiko global.
Pada perdagangan awal, Brent dan WTI cenderung datar masing-masing di sekitar $71,64/barel dan $65,88/barel. Meski stabil, posisi ini tetap dekat dengan level tertinggi sekitar enam bulan, menandakan pasar belum berani melepas risk premium.
ING menilai ketidakpastian yang meningkat dalam dua pekan ke depan bisa membuat harga minyak tetap memasukkan “biaya risiko” tambahan. Artinya, pergerakan minyak bisa lebih sensitif terhadap headline, bahkan tanpa perubahan besar pada data fundamental harian.
Dengan latar ini, pasar minyak diperkirakan tetap reaktif: kabar kemajuan negosiasi bisa mendinginkan harga, sementara sinyal eskalasi dapat memperlebar risk premium dan menjaga minyak bertahan di area tinggi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id