Minyak Naik di Tengah Gejolak, Dolar Turun Jadi Pemicu
Harga minyak menguat karena dolar AS menuju performa mingguan terburuknya dalam sekitar tujuh bulan. Setelah beberapa hari pasar global diguncang isu hubungan AS–Eropa dan pembicaraan damai Ukraina yang belum jelas ujungnya, pelaku pasar kembali menambah posisi di komoditas energi.
Minyak mentah Brent sempat bergerak di atas $65 per barel dan mengarah ke kenaikan mingguan kelima. Di saat yang sama, ukuran kekuatan dolar versi Bloomberg melemah sehingga komoditas berdenominasi dolar terasa lebih “murah” bagi banyak pembeli. Namun suasana pasar tetap sensitif, bahkan kontrak berjangka saham AS sempat melemah karena investor menyebar risiko ke berbagai aset dan wilayah.
Dari sisi geopolitik, kebuntuan Rusia–Ukraina masih jadi sumber ketidakpastian. Kontak diplomatik AS dengan Kremlin disebut berlanjut hingga akhir pekan, sementara Presiden Vladimir Putin tetap menekan tuntutan wilayah Ukraina yang masih dikuasai Kyiv—membuat pasar sulit merasa benar-benar “tenang”.
Sejak awal tahun, harga minyak juga ditopang oleh risiko dari beberapa titik panas—dari Venezuela hingga Iran—serta gangguan pasokan dari Kazakhstan. Tapi di balik itu, pasar tetap dibayang-bayangi kekhawatiran kelebihan pasokan. Laporan bulanan IEA terbaru menilai suplai global masih berpotensi lebih besar daripada permintaan pada 2026, walau angka surplusnya sempat direvisi. Di AS, stok minyak mentah juga tercatat naik beberapa pekan terakhir, menambah “beban” untuk reli yang lebih panjang.
Intinya, pelemahan dolar memberi napas untuk harga minyak, tapi arah besarnya belum sepenuhnya bebas dari tekanan oversupply. Sementara itu, produksi di ladang Tengiz dan Korolev di Kazakhstan dilaporkan masih belum kembali normal setelah gangguan pasokan listrik, sehingga pasar tetap memasang premi risiko pasokan untuk jangka dekat.(alg)
Sumber: Newsmaker.id