Minyak Ambles ke $60, Risiko Geopolitik Kalah oleh Surplus
Harga minyak turun pada hari perdagangan pertama tahun 2026 karena ekspektasi surplus pasokan yang makin besar menutupi risiko geopolitik terhadap produksi di beberapa negara OPEC+.
Kontrak berjangka Brent diperdagangkan mendekati US$60 per barel, setelah menutup 2025 dengan penurunan 18%—penurunan tahunan terbesar sejak 2020—sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$57. Pasar Timur Tengah, termasuk instrumen derivatif seperti patokan regional Dubai, ikut melemah di tengah tekanan jual yang kuat pada salah satu “jendela” perdagangan utama di jam perdagangan Asia, menurut para pelaku pasar yang mengetahui hal tersebut.
Menghadapi pelemahan musiman konsumsi, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) cenderung bersikap hati-hati. Anggota kunci OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi akan menggelar pertemuan online pada 4 Januari, dan diperkirakan kembali menegaskan keputusan untuk menahan (pause) peningkatan pasokan sepanjang kuartal pertama.
Harga tertekan sepanjang 2025 karena OPEC+ dan para pesaing—mulai dari AS hingga Guyana—sama-sama meningkatkan produksi, sementara pertumbuhan permintaan melambat. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kelebihan pasokan (glut) sekitar 3,8 juta barel per hari pada tahun ini.
Kelebihan pasokan yang membayangi tersebut bertindak seperti “peredam kejut” terhadap berbagai potensi gangguan produksi.
Presiden Donald Trump mengatakan AS akan “menyelamatkan” para demonstran jika Iran menembaki atau membunuh mereka, menurut unggahan di Truth Social. Teheran dan kota-kota lain mengalami gelombang demonstrasi setelah mata uang lokal anjlok ke level terendah sepanjang sejarah. Presiden Masoud Pezeshkian berupaya meredakan situasi dengan berjanji merevisi rencana kenaikan pajak, dan mengakui massa memiliki “tuntutan yang sah.”
Pemerintahan Trump juga meningkatkan kampanye terhadap ekspor minyak Venezuela dengan menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan di Hong Kong dan Tiongkok daratan, serta kapal-kapal yang dituduh menghindari pembatasan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menambah tekanan terhadap rezim Nicolas Maduro.
Rusia mengajukan permintaan diplomatik resmi agar AS menghentikan pengejaran terhadap sebuah kapal tanker yang semula berlayar menuju Amerika Selatan untuk mengambil minyak, namun kini kabur dari Coast Guard dalam pengejaran melintasi Samudra Atlantik, lapor New York Times. Kapal bernama Bella 1 itu diketahui memulai perjalanannya dari Iran.
Setelah adanya peningkatan kekuatan militer yang signifikan di kawasan, AS memberlakukan blokade parsial terhadap kapal-kapal minyak yang singgah ke Venezuela, dan juga menyerang sebuah fasilitas yang dituduh terkait narkoba di dalam negara tersebut.
Sementara itu, Rusia dan Ukraina saling menyerang pelabuhan mereka di Laut Hitam selama periode tahun baru, merusak infrastruktur termasuk sebuah kilang. Konflik ini turut memengaruhi aliran energi dari Kazakhstan, negara lain dalam aliansi OPEC+.(yds)
Sumber: Bloomberg.com