Minyak Tenang, Tapi Konflik & Sanksi Siap Kacaukan Harga?
Harga minyak bergerak stabil di awal perdagangan Selasa, dengan Brent di kisaran $63,24 per barel dan WTI sekitar $59,42 per barel. Keduanya masih mempertahankan kenaikan lebih dari 1% dari sesi Senin. Pasar saat ini sedang menimbang banyak faktor: serangan drone Ukraina ke fasilitas energi Rusia di kawasan Laut Hitam, ketegangan politik antara AS dan Venezuela, serta ekspektasi yang bercampur soal data persediaan minyak dan bahan bakar di AS. Terminal ekspor di Laut Hitam memang sudah mulai kembali beroperasi sebagian, tapi kerusakan yang terjadi tetap membuat pasar waspada.
Dari sisi geopolitik, konflik Rusia-Ukraina terlihat masih jauh dari kata selesai, sementara situasi di Venezuela juga mulai jadi sorotan. Tekanan politik dari AS ke Venezuela dikhawatirkan bisa mengganggu stabilitas dalam negeri dan pada akhirnya mengancam produksi serta ekspor minyak negara tersebut. Di tengah kondisi ini, analis melihat pasar terutama untuk produk seperti diesel/gasoil sedang berada di ambang pemulihan, artinya permintaan bisa menguat jika tidak ada gangguan besar tambahan.
Sementara itu, OPEC+ menegaskan kembali hanya akan sedikit menaikkan produksi bulan Desember dan kemudian menahan kenaikan pada kuartal pertama tahun depan karena khawatir kelebihan pasokan. Sikap hati-hati OPEC+ ini membantu menahan harga minyak agar tidak turun terlalu dalam. Namun, sentimen pasar masih bercampur karena jajak pendapat awal menunjukkan stok minyak mentah AS kemungkinan turun, sementara persediaan produk olahan justru naik. Kombinasi antara risiko geopolitik, kebijakan OPEC+, dan data stok yang beragam membuat pergerakan minyak saat ini cenderung stabil, tapi penuh potensi kejutan. (az)
Sumber: Newsmaker.id