Harga Minyak Melemah, Ancaman Oversupply Makin Nyata?
Harga minyak bergerak turun pada perdagangan Selasa (25/11), dengan minyak Brent melemah sekitar 0,5% ke kisaran US$63,04 per barel dan WTI turun 0,5% ke sekitar US$58,56 per barel. Kekhawatiran bahwa pasokan minyak tahun depan akan melebihi permintaan menekan harga, meski perundingan damai Ukraina masih buntu dan sanksi terhadap minyak Rusia belum menunjukkan tanda-tanda dicabut.
Sehari sebelumnya, kedua acuan minyak sempat naik sekitar 1,3% karena pasar meragukan tercapainya kesepakatan damai yang bisa membuka kembali arus ekspor minyak dan produk energi Rusia tanpa hambatan. Namun, untuk prospek 2026, banyak proyeksi justru memperkirakan pertumbuhan pasokan akan lebih besar dibanding kenaikan permintaan, sehingga risiko kelebihan pasokan kembali mencuat.
Analis menilai bahwa dalam jangka pendek, risiko utama justru oversupply, sehingga level harga saat ini dinilai rentan terhadap tekanan jual lebih lanjut. Di saat yang sama, sanksi baru terhadap Rosneft dan Lukoil, serta larangan produk olahan minyak Rusia ke Eropa, membuat beberapa kilang India—termasuk Reliance—mengurangi pembelian minyak Rusia.
Dengan opsi penjualan yang makin sempit, Rusia berupaya meningkatkan ekspor ke China. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyebut Moskow dan Beijing tengah membahas cara memperluas aliran ekspor minyak ke China. Meski begitu, fokus utama pelaku pasar tetap pada potensi ketidakseimbangan lebih lebar antara pasokan dan permintaan global dalam beberapa waktu ke depan.(yds)
Sumber: Reuters.com