Emas Menguat Tipis, Tapi Menuju Penurunan Mingguan
Harga emas bergerak menguat pada perdagangan Jumat (17/7), tetapi masih berada di jalur pelemahan mingguan terbesar dalam enam pekan. Tekanan utama datang dari meningkatnya konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak naik dan kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Spot gold naik 1,1% ke level US$4.015,09 per troy ounce setelah sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,7% dan menetap di US$4.018,80 per troy ounce.
Meski naik harian, emas masih melemah sekitar 3% sepanjang pekan ini. Pelemahan tersebut menjadi yang terbesar sejak 1 Juni, karena kekhawatiran inflasi akibat konflik Timur Tengah lebih dominan dibanding dukungan dari data inflasi AS Juni yang lebih rendah.
Kenaikan harga minyak sekitar 12% dalam sepekan turut menambah tekanan bagi emas. Lonjakan minyak berisiko mendorong inflasi kembali naik, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga.
Sejumlah pejabat The Fed juga memberi sinyal hawkish. Presiden Fed Dallas Lorie Logan secara terbuka menyerukan kenaikan suku bunga, sementara Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson membuka peluang langkah serupa jika inflasi tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.
Dampaknya ke market, emas masih berada dalam tekanan meski sempat mendapat aksi beli saat turun di bawah US$4.000. Selama harga minyak tetap tinggi, inflasi menjadi ancaman, dan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, pergerakan emas berpotensi tetap terbatas dalam jangka pendek.(yds)
Sumber: Newsmaker.id