Minyak Meledak ada Potensi Naik Lebih Tajam!
Harga minyak kembali naik tajam pada perdagangan Selasa (14/7) dan menyentuh level tertinggi dalam empat pekan. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, sementara kedua negara meningkatkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pasar semakin khawatir terhadap kelancaran pasokan energi global.
Brent crude naik US$1,50 atau 1,8% ke level US$84,80 per barel pada pukul 03.30 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat US$1,70 atau 2,2% ke US$79,84 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak sempat naik lebih dari US$2 per barel sebelum memangkas sebagian penguatan.
Lonjakan ini melanjutkan reli besar pada sesi sebelumnya, saat Brent melonjak 9,6% dan mencatat kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020. Harga minyak kini berada di level tertinggi sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani memorandum of understanding untuk mengakhiri perang pada 17 Juni.
Ketegangan meningkat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut. Presiden Donald Trump juga kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman Iran dan mengusulkan biaya 20% untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Pasar menilai langkah ini menambah premi risiko baru ke harga minyak.
Situasi semakin panas setelah dua tanker Uni Emirat Arab dilaporkan terkena rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di perairan Oman. Insiden tersebut menewaskan satu awak asal India dan melukai delapan orang lainnya. Data pelayaran juga menunjukkan jumlah tanker yang melintas di Hormuz turun ke level terendah dalam dua bulan, menandakan operator kapal mulai menahan diri karena risiko keamanan meningkat.
Dampaknya ke market, fokus utama investor kini tertuju pada pergerakan fisik kapal tanker di Selat Hormuz. Jika lalu lintas minyak benar-benar terganggu, harga minyak bisa naik lebih tinggi lagi. Namun, jika pasokan tetap berjalan meski konflik berlanjut, sebagian premi geopolitik bisa mulai memudar. Selain itu, serangan Houthi ke Arab Saudi juga menambah risiko baru bagi arus minyak dari kawasan Timur Tengah.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id