Emas Bertahan, Data Tenaga Kerja AS Jadi Pemicu
Harga emas bertahan menguat pada perdagangan Jumat (03/7) setelah data tenaga kerja Amerika Serikat yang lemah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Emas bergerak di sekitar level US$4.130 per troy ounce setelah pada sesi sebelumnya melonjak 2,3%, kenaikan harian terbesar dalam tiga pekan.
Penguatan emas terjadi setelah data pekerjaan AS menunjukkan perekrutan tenaga kerja melambat tajam pada Juni. Angka ini memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja masih menghadapi tekanan, meskipun dalam beberapa bulan terakhir sempat terlihat cukup kuat.
Data tenaga kerja yang lemah membuat pasar menilai The Fed tidak terlalu terdesak untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli. Sebelumnya, ekspektasi suku bunga tinggi menjadi tekanan besar bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Kini, pasar swap hanya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 18%, turun dari sekitar sepertiga pada awal pekan.
Sentimen positif emas juga datang dari penurunan harga minyak. Harga minyak yang menjadi salah satu pemicu inflasi dalam beberapa bulan terakhir mulai turun mendekati level sebelum perang. Hal ini terjadi karena arus kapal tanker melalui Selat Hormuz meningkat dan pembicaraan AS-Iran di Qatar menunjukkan perkembangan positif menuju perdamaian yang lebih tahan lama.
Meski begitu, pasar masih mencermati isu independensi The Fed. Presiden AS Donald Trump disebut terus berupaya membentuk ulang jajaran bank sentral dan mendorong pencopotan Gubernur The Fed Lisa Cook. Kekhawatiran terhadap intervensi politik di bank sentral dapat kembali mendukung emas sebagai aset lindung nilai.
Pada pukul 08.00 waktu Singapura, emas spot naik tipis 0,1% ke level US$4.127,40 per troy ounce. Perak menguat 0,3% ke US$61,09 per troy ounce, sementara platinum dan palladium juga naik. Di sisi lain, indeks dolar Bloomberg bergerak sedikit lebih tinggi setelah pada sesi sebelumnya melemah 0,5%.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id