mas Rebound, Tapi Masih Menuju Pelemahan Mingguan
Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (26/6) seiring melemahnya dolar Amerika Serikat dan sedikit meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah rilis data inflasi. Meski demikian, logam mulia masih berada di jalur pelemahan mingguan keempat berturut-turut.
Harga emas spot naik 1,2% ke level US$4.073,78 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga menguat 1,2% ke level US$4.096,30 per troy ounce.
Dolar AS melemah dari level tertinggi terbaru setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE dirilis pada Kamis. PCE AS naik 4,1% dalam 12 bulan hingga Mei, sesuai dengan perkiraan ekonom. Karena tidak ada kejutan inflasi yang lebih panas dari ekspektasi, tekanan terhadap emas mulai berkurang.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September sekitar 60%, turun dari ekspektasi sebelumnya sekitar 64%. Penurunan peluang tersebut membantu emas rebound karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan emas sedang mengalami rebound moderat setelah mendapat tekanan jual pada awal pekan. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan karena dolar yang kuat dan ekspektasi suku bunga tinggi.
Meski menguat pada Jumat, emas masih turun sekitar 2,6% sepanjang pekan ini. Tekanan mingguan tersebut menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari sentimen bearish, terutama karena The Fed masih berpotensi mempertahankan kebijakan ketat selama inflasi belum kembali mendekati target 2%.
TD Securities menilai hubungan negatif emas dengan dolar AS dan harga minyak masih perlu diperhatikan. Jika harga energi kembali menguat secara berkelanjutan, tekanan inflasi dapat meningkat dan mendorong The Fed tetap hawkish. Kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan baru terhadap emas dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi permintaan fisik, emas mulai diperdagangkan dengan premi di India untuk pertama kalinya dalam satu setengah bulan. Koreksi harga sebelumnya mendorong pembelian di pasar India. Namun, permintaan di China, sebagai konsumen emas terbesar, masih terlihat lemah.
Dengan kondisi tersebut, rebound emas saat ini masih lebih terlihat sebagai pemulihan teknikal dibandingkan perubahan tren besar. Untuk melanjutkan kenaikan yang lebih kuat, emas membutuhkan pelemahan dolar yang berkelanjutan, penurunan yield Treasury, serta sinyal bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif.(yds)
Sumber: Newsmaker.id