Gold Rebound Tipis, Tren Masih Rapuh
Harga emas bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (26/6), tetapi masih berada di jalur pelemahan mingguan yang cukup tajam. Tekanan utama masih datang dari dolar Amerika Serikat yang bertahan dekat level tertinggi 13 bulan dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih dapat menaikkan suku bunga tahun ini.
Harga emas spot naik 0,55% ke level US$4.050,88 per troy ounce pada sesi perdagangan terbaru. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat menguat 0,4% ke level US$4.063,77 per troy ounce. Meski mengalami rebound harian, emas masih berpotensi turun hampir 3% sepanjang pekan ini dan sudah melemah sekitar 11% selama bulan berjalan.
Dolar AS masih menjadi faktor utama yang membatasi pemulihan emas. Greenback tetap berada di sekitar level tertinggi dalam 13 bulan dan menuju penguatan mingguan kedua berturut-turut. Dolar yang kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan terhadap logam mulia.
Tekanan terhadap emas juga datang dari ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE AS yang dirilis Kamis menunjukkan tekanan harga masih tinggi. PCE naik 4,1% secara tahunan pada Mei, menjadi pembacaan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun dan kembali berada di atas level 4% untuk pertama kalinya sejak 2023.
Meski angka PCE tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan sempat meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga yang lebih agresif, inflasi tetap jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi ini membuat pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September. Suku bunga tinggi cenderung menekan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Risiko geopolitik di Timur Tengah membantu membatasi pelemahan emas. Investor masih memantau perkembangan setelah sebuah kapal kargo dilaporkan diserang di dekat Selat Hormuz. Insiden tersebut sempat menghidupkan kembali permintaan safe haven, meskipun belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi.
Di pasar logam mulia lainnya, perak naik 0,47% ke level US$58,17 per ounce, tetapi masih menuju pelemahan mingguan sekitar 12%. Platinum melonjak 4% ke sekitar US$1.608,23 per ounce, namun tetap berada di jalur penurunan mingguan ketujuh berturut-turut.
Sementara itu, harga tembaga bergerak beragam. Kontrak tembaga acuan di London Metal Exchange turun 0,4% ke level US$13.249,33 per ton, sedangkan futures tembaga AS naik 0,45% ke US$6,10 per pon. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar logam masih berada dalam tekanan campuran antara sentimen suku bunga, dolar AS, dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan global.
Ke depan, arah emas masih akan sangat bergantung pada pergerakan dolar AS, yield Treasury, dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika dolar tetap kuat dan peluang kenaikan suku bunga bertahan, emas berisiko kembali tertekan. Namun, jika yield turun lebih dalam atau risiko geopolitik meningkat, emas masih berpeluang mempertahankan area psikologis US$4.000.(arl)
Sumber: Newsmaker.id