Gold Terjepit Dolar dan The Fed
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Rabu (24/6), mendekati level terendah dalam hampir dua pekan dan mulai menguji area psikologis US$4.000 per troy ounce. Spot gold turun ke sekitar US$4.067 per ounce setelah sempat menyentuh level intraday di kisaran US$4.050. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ikut melemah ke sekitar US$4.083 per ounce.
Tekanan utama bagi emas datang dari penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar AS atau DXY naik ke level tertinggi dalam 13 bulan karena pasar semakin yakin Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga permintaan global terhadap logam mulia ikut tertekan.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi beban besar bagi emas. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 70%, dan memperhitungkan kemungkinan kenaikan tambahan sebelum akhir tahun. Kondisi ini membuat emas kurang menarik karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sementara obligasi dan aset berbasis dolar menjadi lebih kompetitif saat suku bunga naik.
Secara tren, emas juga sedang berada dalam fase koreksi yang cukup dalam. Harga telah turun dalam lima dari enam sesi terakhir dan berada dalam tekanan setelah mencatat tiga pekan pelemahan beruntun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual bukan hanya dipicu oleh satu sentimen harian, tetapi berasal dari kombinasi dolar kuat, yield tinggi, dan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
Dari sisi geopolitik, meredanya kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah juga mengurangi permintaan safe haven terhadap emas. Investor masih memantau proses diplomasi Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah kedua pihak memberi sinyal kemajuan menuju kerangka perdamaian yang lebih luas. Namun, ketidakpastian tetap ada karena isu penting seperti inspeksi nuklir dan akses terhadap dana Iran yang dibekukan belum sepenuhnya selesai.
Ke depan, fokus utama pasar tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis. Data ini menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan akan menentukan arah emas berikutnya. Jika PCE kembali panas, emas berisiko menguji area US$4.050 hingga US$4.000. Namun, jika inflasi mulai melandai, emas berpeluang melakukan rebound teknikal ke area US$4.100 hingga US$4.125. (arl)
Sumber: Newsmaker.id