• Thu, Jan 15, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

7 January 2026 03:09  |

Emas Dekati Rekor, Risiko Geopolitik Derong Permintaan Aset Aman

Harga emas melanjutkan penguatan pada Selasa (6/1), ditopang arus pembelian aset safe haven pasca penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat memicu ketegangan global. Di saat yang sama, investor menanti data ketenagakerjaan AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Emas spot naik 0,8% menjadi US$4.485,39 per ons pada pukul 13.40 waktu AS (18.40 GMT), setelah melonjak hampir 3% pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini membawa harga semakin dekat ke rekor US$4.549,71 yang tercatat pada 24 Desember. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup naik 1% di US$4.496,10.

Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai pelaku pasar logam mulia melihat potensi risiko ke depan lebih besar dibanding pelaku pasar saham dan obligasi saat ini. Menurutnya, operasi AS di Venezuela pada akhir pekan memperkuat permintaan safe haven untuk emas dan perak.

Sementara itu, Nicolás Maduro yang telah digulingkan mengaku tidak bersalah pada Senin atas tuduhan terkait narkotika, setelah AS menahannya dan membawanya ke New York. Emas—yang dikenal sebagai aset lindung nilai—mencatat kenaikan 64,4% sepanjang tahun lalu, menjadi performa tahunan terbaik sejak 1979.

Fokus pasar kini bergeser ke laporan ketenagakerjaan bulanan AS pada Jumat. Data tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan 60.000 pekerjaan pada Desember, sedikit lebih rendah dari 64.000 pada bulan sebelumnya. Pelaku pasar saat ini memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, berdasarkan data LSEG.

Di sisi kebijakan, Presiden Fed Richmond Tom Barkin mengatakan perubahan suku bunga berikutnya perlu “disetel dengan presisi” agar seimbang terhadap risiko pengangguran dan inflasi. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.

Sementara Morgan Stanley yang merupakan perushaan jasa keuangan terkemuka memperkirakan harga emas berpotensi naik ke US$4.800 pada kuartal IV tahun ini, didorong proyeksi penurunan suku bunga, perubahan kepemimpinan di The Fed, serta pembelian kuat dari bank sentral dan dana.

Perak spot—yang sempat mencetak rekor US$83,62 pada 29 Desember—melonjak 5,4% menjadi US$80,68 per ons. Perak juga membukukan kenaikan tahunan terbesar pada 2025, melesat 147% karena permintaan industri dan minat investor.

Platinum spot naik 7,2% ke US$2.435,20, sementara palladium menguat 5,9% ke US$1.821,68.(yds)

Sumber: Reuters.com

Related News

GOLD

Harga Emas Melemah, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Harga emas dunia (XAU/USD) bergerak melemah di sekitar $3.335 per ons pada awal sesi Eropa hari Senin, setelah sempat mencoba...

28 July 2025 16:23
GOLD

Setelah Melambung, Emas Kini Terancam Tenggelam?

Harga emas batangan bergerak melemah dan diperkirakan mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut setelah pasar global me...

27 June 2025 12:22
GOLD

Fed Turunkan Harga Emas, Namun Kini Mulai Berbalik Arah!

Harga emas naik tipis menyusul penurunan pada sesi sebelumnya yang dipicu oleh peringatan Ketua Federal Reserve Jerome Powell...

19 June 2025 07:41
GOLD

Emas Masih Tunggu Hasil FOMC

Harga emas (XAU/USD) bergerak stabil pada hari Rabu, diperdagangkan mendekati $3.330 per troy ounce di sesi Eropa, setelah se...

30 July 2025 21:21
BIAS23.com NM23 Ai