Emas Nempel Rekor, Dunia Makin Panas
Harga emas naik di atas $4.340 per ons pada Rabu (17/12), makin dekat dengan rekor tertinggi yang sempat tercetak pada Oktober. Emas menguat karena pasar kembali yakin peluang pelonggaran suku bunga The Fed masih terbuka, sekaligus karena investor mencari aset aman saat tensi geopolitik memanas lagi.
Salah satu pemicunya datang dari pernyataan pejabat The Fed, Christopher Waller, yang menyebut suku bunga masih bisa turun hingga sekitar 1% dari level sekarang. Ia menyoroti pertumbuhan pekerjaan yang nyaris mandek dan pasar tenaga kerja yang mulai mendingin—dua hal yang biasanya membuat The Fed punya alasan untuk lebih “longgar”.
Data tenaga kerja AS awal pekan ini juga mendukung narasi tersebut. Tingkat pengangguran naik ke 4,6%, tertinggi sejak 2021. Walau penambahan payroll November terlihat lebih baik dari perkiraan, kondisi itu dinilai belum cukup menutup perlambatan tajam yang terjadi di Oktober—jadi gambarnya tetap: ekonomi melambat, tapi pelan.
Di luar faktor ekonomi, geopolitik ikut jadi bensin tambahan buat emas. Presiden Donald Trump memerintahkan blokade “total dan lengkap” terhadap tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi, setelah adanya penyitaan kapal pekan lalu dan peningkatan aktivitas militer AS di kawasan. Situasi seperti ini biasanya bikin investor lebih defensif.
Tekanan geopolitik juga datang dari sisi Rusia–Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin memberi sinyal bahwa ia tidak berniat melonggarkan tuntutannya soal wilayah Ukraina, meski Trump meningkatkan upaya untuk mendorong kesepakatan damai. Ketidakpastian ini membuat pasar sulit merasa “aman”.
Dengan kombinasi faktor suku bunga dan geopolitik, emas tetap punya dukungan untuk bertahan kuat. Fokus pasar berikutnya ada pada data ekonomi lanjutan dan sinyal dari The Fed—kalau data makin menguatkan peluang cut, emas berpotensi menguji rekor lagi; kalau sebaliknya, pergerakan bisa jadi lebih choppy, tapi minat safe haven masih jadi bantalan.(yds)
Sumber: Tradingeconomics.com