Emas Diincar Buat 2026, Sinyal Apa dari Manajer Dana Global?
Harga emas saat ini masih nyaman bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce. Untuk jangka pendek, pergerakan emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh rilis risalah rapat The Fed (FOMC minutes), komentar terbaru pejabat The Fed, dan data ketenagakerjaan AS yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah. Tiga faktor ini akan memberi gambaran baru soal arah suku bunga dalam waktu dekat.
Yang menarik, justru prospek emas untuk tahun 2026 mulai banyak dilirik pelaku pasar global. Dalam sebuah survei Bank of America terhadap sekitar 170 manajer investasi, emas disebut sebagai aset dengan potensi imbal hasil terbaik kedua tahun depan, hanya kalah dari yen di antara kelompok mata uang utama. Artinya, meskipun tahun ini emas sudah naik sekitar 55% dan sempat mencetak rekor, masih banyak manajer dana yang melihat ruang kenaikan lanjutan.
Dukungan ini menunjukkan bahwa “bensin” untuk tren kenaikan emas belum habis. Ekspektasi investor adalah, di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak pasar keuangan, emas tetap dipandang sebagai tempat aman untuk menyimpan nilai. Pandangan positif dari manajer dana global ini bisa menjadi salah satu penopang utama harga emas ke depan, terutama jika volatilitas di pasar saham dan obligasi kembali meningkat.
Namun, nasib emas di 2026 juga sangat bergantung pada siapa yang akan dipilih Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya. Trump sudah memberi sinyal bahwa ia merasa sudah menemukan kandidat yang cocok, dan berulang kali menyuarakan keinginan agar suku bunga lebih rendah. Setelah dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, bahkan masih ada peluang satu kali penurunan lagi bulan depan, pasar mulai menghitung skenario pelonggaran lanjutan di 2026.
Jika ke depan kebijakan suku bunga memang cenderung lebih longgar, ditambah dengan tren pembelian emas oleh bank sentral yang terus berlanjut, kombinasi ini berpotensi menjadi angin segar bagi harga emas. Bagi investor, sinyal dari manajer dana global, arah kebijakan The Fed di bawah ketua yang baru, dan langkah bank sentral dunia akan menjadi tiga faktor kunci untuk menilai apakah emas benar-benar layak dijadikan salah satu “bintang” portofolio di 2026.(asd)
Sumber: Bloomberg