Ekonomi AS Bikin Pasar Emas Bingung
Harga emas menguat di sesi Asia pada Jumat, didukung meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Amerika Serikat yang mendorong aliran dana ke aset aman. Logam mulia ini juga menuju kenaikan mingguan pertama dalam empat minggu, setelah kembali dengan nyaman bertahan di atas level psikologis USD 4.000 per troy ounce. Namun, potensi kenaikan emas masih tertahan karena pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Desember.
Sepanjang pekan ini, harga emas spot naik sekitar 5%, dibantu oleh minat beli sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian outlook ekonomi AS. Penutupan pemerintah AS selama hampir 43 hari memang sudah berakhir, dan pemerintah diperkirakan akan kembali merilis data ekonomi resmi dalam beberapa pekan ke depan. Meski begitu, pelaku pasar justru khawatir data yang akan keluar nanti bisa menggambarkan pelemahan ekonomi yang lebih dalam akibat dampak shutdown. Pejabat pemerintah AS bahkan mengisyaratkan kemungkinan data inflasi dan pasar tenaga kerja untuk Oktober tidak akan dirilis sama sekali.
Di sisi lain, logam mulia lainnya juga ikut menguat dan mencatat kinerja mingguan yang solid. Platinum spot naik sekitar 0,5% ke kisaran USD 1.593 per ons, sementara silver menguat 1,1% ke sekitar USD 52,88 per ons. Sepanjang pekan, silver menjadi bintang utama dengan lonjakan sekitar 9% dan kembali mendekati rekor tertinggi yang sempat disentuh pada Oktober, sekaligus menegaskan kuatnya minat investor terhadap sektor logam mulia secara keseluruhan.
Dari sisi kebijakan, ketidakjelasan data membuat langkah The Fed menjelang pertemuan Desember menjadi serba terbatas. Pasar kini hanya melihat peluang sekitar 45% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin, turun tajam dari sekitar 64% pekan lalu, sementara peluang “tahan suku bunga” naik menjadi sekitar 55%. Komentar terbaru dari pejabat The Fed, seperti Presiden Fed San Francisco Mary Daly, yang menilai masih terlalu dini untuk memutuskan pemangkasan, ikut memperkuat sikap hati-hati ini. Menariknya, dolar AS justru tidak mendapat banyak dukungan dari turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga dan masih melemah sekitar 0,4% dalam sepekan, sehingga secara tidak langsung tetap menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas dan logam mulia lainnya.(Asd)
Sumber: Bloomberg.com