Pasar Pangkas Skenario Hawkish, Probabilitas Cut Rate Naik Tajam
Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve bergeser cepat setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan. Data CME menunjukkan probabilitas setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga hingga Desember naik menjadi 43% dari 14% sehari sebelumnya. Perubahan itu terjadi bersamaan dengan turunnya imbal hasil, seiring harga minyak turun kembali ke bawah US$100/barel meski masih jauh di atas level pra-perang sekitar US$70/barel.
Repricing ini penting karena sepanjang perang, pasar sempat beralih dari skenario beberapa kali pemangkasan menjadi bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga akibat guncangan energi. Kini peluang kenaikan sudah “priced out”, tetapi pasar juga belum kembali ke pandangan pra-perang tentang pemangkasan beruntun, karena ketidakpastian gencatan senjata masih tinggi dan normalisasi arus minyak-gas global berpotensi memakan waktu berbulan-bulan meski Selat Hormuz dibuka kembali.
Secara transmisi, penurunan minyak meredakan risiko inflasi energi dan menurunkan tekanan agar The Fed mempertahankan kebijakan ketat. Namun “high-for-longer” tetap menjadi baseline jika inflasi bertahan. BofA, lewat ekonom Stephen Juneau, menilai The Fed bisa mempertimbangkan pemangkasan jika tingkat pengangguran menembus 4,5%, tetapi ambang tersebut bisa menjadi lebih tinggi jika risiko inflasi dari konflik masih membayangi, terutama ketika indikator seperti lowongan dan laju perekrutan di data JOLTS menunjukkan pelemahan.
Skenario dasar pasar saat ini cenderung mengarah pada peluang satu kali pemangkasan bila minyak terus melunak dan data inflasi mereda, sementara Fed menunggu konfirmasi dari pasar tenaga kerja. Skenario alternatifnya, jika de-eskalasi rapuh atau pemulihan arus Hormuz berjalan lambat sehingga harga energi kembali menekan, The Fed bisa bertahan lebih lama tanpa pemangkasan; sebaliknya, pelemahan tenaga kerja yang lebih tajam dapat memaksa pelonggaran lebih cepat meski inflasi belum sepenuhnya jinak.
Pasar akan memantau implementasi gencatan senjata, kelancaran lalu lintas Hormuz dan waktu pemulihan logistik, arah Brent/WTI, rilis inflasi berikutnya, pergeseran ekspektasi inflasi, serta indikator tenaga kerja (pengangguran, JOLTS, upah) dan komunikasi pejabat The Fed. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id