Rick Rieder Mencuat dalam Skenario “Ketua The Fed Baru” Era Trump
Rick Rieder, kepala manajer investasi obligasi di BlackRock, tiba-tiba jadi “nama paling panas” di bursa prediksi untuk kursi Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya. Di Kalshi, peluang Rieder berada di kisaran sekitar setengah pasar, menggeser kandidat lain yang sebelumnya lebih sering disebut.
Di belakangnya, mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh masih menempel ketat, sementara nama-nama seperti Christopher Waller dan Kevin Hassett berada di lapisan berikutnya. Dinamika peluang ini bergerak cepat dalam beberapa hari terakhir—menandakan pasar makin sensitif terhadap sinyal politik dari Washington.
Konteksnya sensitif: masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berakhir pada Mei, dan spekulasi soal pengganti makin ramai tepat saat pasar menunggu keputusan FOMC. Di saat yang sama, tekanan politik ke The Fed kembali jadi bahan bakar utama volatilitas.
Sejumlah analis menilai Rieder dianggap “nyambung” dengan preferensi kebijakan yang lebih lunak, terutama soal arah suku bunga. Narasi ini yang membuat sebagian pelaku pasar mulai memasang skenario: jika ketua baru lebih dovish, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa kembali agresif—dan itu biasanya cepat tercermin di dolar, obligasi, serta aset berisiko.
Namun, isu yang lebih besar bukan cuma siapa orangnya—melainkan seberapa independen The Fed bisa bertahan. Serangkaian manuver dan tensi politik membuat pasar menilai kursi Ketua The Fed sebagai posisi “high risk”, karena keputusan moneter dapat terseret persepsi intervensi.
Intinya: pasar sedang membaca suksesi Powell sebagai faktor yang bisa mengubah peta 2026—bahkan sebelum nama resminya keluar. Sampai ada pengumuman formal, pergerakan peluang di pasar prediksi akan terus jadi kompas spekulasi (dan sumber volatilitas) jelang serta setelah keputusan The Fed. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id