Rapat The Fed Dibayangi Lonjakan Minyak, Pasar Fokus ke SEP dan Powell
Federal Reserve AS akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu, dengan pasar menilai rapat kali ini lebih sensitif setelah guncangan energi akibat perang Iran menambah ketidakpastian terhadap mandat ganda The Fed. Konsensus memperkirakan FOMC mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% untuk pertemuan kedua beruntun, sehingga perhatian utama beralih ke Summary of Economic Projections (SEP) dan komentar Ketua The Fed Jerome Powell.
Karena keputusan suku bunga dinilai hampir sepenuhnya sudah dipricing, pasar akan membaca perubahan proyeksi inflasi, pertumbuhan, dan jalur suku bunga (dot plot) untuk mengukur seberapa besar lonjakan minyak menggeser bias kebijakan. CME FedWatch menunjukkan pasar melihat peluang pemangkasan yang sangat kecil pada Maret dan April, serta probabilitas tinggi untuk mempertahankan kebijakan pada Juni. Ekspektasi pemangkasan tahun ini juga menyusut menjadi sekitar satu kali, berubah tajam dibanding proyeksi tiga kali sebelum perang Iran.
Perubahan konteks datang dari lonjakan harga minyak yang dipicu penutupan Selat Hormuz di tengah perang AS–Iran, yang meningkatkan risiko inflasi sekaligus menekan prospek pertumbuhan. DBS menilai The Fed menghadapi posisi “terjepit” antara inflasi energi yang naik dan pertumbuhan AS yang melemah, seraya mengingatkan trauma 2022 saat respons kebijakan yang terlambat memaksa kenaikan suku bunga agresif.
Kunci rapat ini adalah bagaimana FOMC mengklasifikasikan guncangan energi: apakah sebagai ancaman inflasi yang menuntut kebijakan ketat lebih lama, atau sebagai “pajak” bagi konsumen yang pada akhirnya melemahkan permintaan dan membuka ruang pelonggaran. Arah komunikasi Powell dan revisi SEP akan menjadi penentu utama reaksi dolar, yield, dan aset berisiko setelah keputusan diumumkan.(alg)
Sumber: Newsmaker.id