The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga, Perang Iran Ubah Peta Risiko Inflasi
Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu, tetapi perhatian pasar justru tertuju pada bagaimana bank sentral AS memperbarui penilaiannya terhadap prospek pertumbuhan, inflasi, dan jalur kebijakan setelah perang Iran mengubah lanskap risiko ekonomi. Reuters melaporkan para pembuat kebijakan akan memaparkan pandangan terbarunya melalui pernyataan kebijakan dan proyeksi ekonomi (termasuk dot plot), di tengah ketidakpastian durasi perang dan arah harga minyak.
Guncangan energi menjadi kanal utama. Reuters mencatat harga minyak sudah melampaui US$100 per barel dalam episode ini, dan harga bensin rata-rata di AS naik menjadi sekitar US$3,79 per galon, lebih dari 25% lebih tinggi dibanding sebelum perang. Kenaikan biaya energi berisiko menular ke harga lain, dari biaya perjalanan hingga input produksi, yang pada akhirnya bisa mengurangi belanja konsumen.
Bagi The Fed, situasinya berubah dari narasi “pertumbuhan stabil dan inflasi melandai” menjadi tarik-ulur antara tekanan harga yang berpotensi naik dan risiko perlambatan pertumbuhan serta pasar tenaga kerja. Reuters menyoroti kekhawatiran bahwa proyeksi terbaru dapat bergeser ke arah “stagflationary,” dengan inflasi dan pengangguran yang diproyeksikan lebih tinggi, sementara pertumbuhan ditandai turun. Di saat yang sama, laporan ketenagakerjaan Februari menunjukkan ekonomi AS kehilangan 92 ribu pekerjaan, menambah beban sisi pertumbuhan.
Perubahan ini juga tercermin pada ekspektasi pasar. Reuters melaporkan pelaku pasar telah memangkas perkiraan pemangkasan suku bunga tahun ini; pasar futures kini cenderung mem-price in satu kali pemangkasan seperempat poin pada September, dengan pemangkasan berikutnya baru terlihat jauh ke depan.
Dampak ke pasar (ringkas):
Dolar (USD): risiko inflasi energi dan berkurangnya ekspektasi rate cut cenderung menopang USD, terutama saat sentimen risk-off menguat.
Emas: mendapat dukungan safe-haven dari geopolitik, tetapi ruang kenaikan bisa tertahan bila USD dan yield tetap tinggi akibat risiko inflasi.
Ekuitas & obligasi: ekuitas sensitif terhadap skenario “biaya energi naik + suku bunga tinggi lebih lama”, sementara obligasi akan menimbang ulang term premium dan jalur inflasi.
Yang perlu dipantau pelaku pasar setelah FOMC:
Perubahan dot plot dan proyeksi inflasi/pengangguran,
Nada Powell soal apakah risiko kebijakan kini “dua arah” (bisa cut atau justru lebih ketat),
Arah minyak (bertahan di atas US$100 atau kembali turun),
Respons konsumen terhadap harga energi (indikasi pelemahan belanja).(CP)
Sumber: Newsmaker.id