Bostic: Jangan Keburu Cut Rate, Inflasi Belum Jinak
Presiden Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, menilai tekanan inflasi di AS masih akan “lengket” dan bertahan sepanjang 2026. Dalam pertemuan dewan Kamar Dagang Metro Atlanta pada Kamis (15/1), Bostic mengatakan banyak perusahaan masih menanamkan biaya tarif ke dalam harga jual—tanda bahwa tekanan biaya belum benar-benar hilang dari rantai harga konsumen.
Bostic menekankan bahwa sumber inflasi bukan cuma isu tarif. Ia menyorot komponen lain yang tetap panas, termasuk biaya layanan seperti sektor medis. Dengan kondisi seperti ini, ia memandang inflasi masih berisiko bertahan di atas target, sehingga kebijakan moneter belum bisa cepat dilonggarkan.
Meski begitu, Bostic tetap melihat ekonomi AS cukup tangguh. Ia memproyeksikan pertumbuhan PDB 2026 masih bisa di atas 2%, menggambarkan skenario “tahan banting” walau suku bunga masih berada di level restriktif.
Dari sisi tenaga kerja, Bostic menggambarkan situasinya sebagai tidak terlalu ketat, tapi juga belum longgar—artinya pasar kerja tidak lagi sepanas sebelumnya, namun belum cukup melemah untuk memberi keyakinan bahwa inflasi akan turun mulus dengan sendirinya.
Kesimpulannya, Bostic memberi sinyal The Fed perlu tetap mempertahankan kebijakan yang membatasi (restrictive) lebih lama, karena menurutnya inflasi masih terlalu tinggi untuk memberi ruang pelonggaran agresif dalam waktu dekat. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id