Goolsbee Tegas: Inflasi No.1, Cut Nanti Dulu
Presiden Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, menegaskan fokus utama bank sentral AS saat ini tetap sama: menjinakkan inflasi dan menguncinya kembali ke target 2%. Menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja justru mulai menunjukkan tanda stabil, sehingga perhatian bisa lebih terkonsentrasi pada urusan harga.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis (15/1), Goolsbee menyebut banyak pelaku usaha di wilayahnya masih mengeluhkan kenaikan biaya dan isu keterjangkauan. Ia menilai, selama tekanan harga belum benar-benar jinak, Fed tidak boleh “kehilangan pegangan” pada mandat inflasi.
Di sisi tenaga kerja, Goolsbee mengatakan kekhawatiran yang sebelumnya sempat muncul kini mereda. Menurutnya, ketidakpastian memang membuat perusahaan menahan laju perekrutan, tetapi belum terlihat gelombang PHK besar-besaran. Indikator di wilayah Chicago, kata dia, menunjukkan pasar kerja berada dalam kondisi cukup stabil—masih ada tenaga, dan pertumbuhan ekonomi belum kehilangan momentum secara drastis.
Pernyataan itu sejalan dengan sinyal dari sejumlah pejabat Fed lainnya yang belakangan condong mendukung sikap menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini. Inflasi memang sempat naik tipis, sementara tingkat pengangguran membaik menjadi sekitar 4,4% pada Desember dan inflasi tahunan CPI berada di sekitar 2,7%.
Dari sisi pasar, pelaku investor juga belum agresif memasang taruhan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat—banyak yang menilai peluang “cut” paling cepat baru menguat sekitar pertengahan tahun. Proyeksi terbaru Fed pun mengarah pada ruang pelonggaran yang terbatas, dengan ekspektasi penurunan yang tidak terlalu besar sepanjang 2026.
Goolsbee juga mengangkat isu sensitif: independensi The Fed. Ia mengulang peringatannya bahwa inflasi bisa “menggila lagi” jika bank sentral kehilangan kemandirian dalam mengambil kebijakan. Komentar ini muncul di tengah sorotan politik terhadap Fed, termasuk penyelidikan terkait biaya renovasi kantor pusat bank sentral di Washington—yang oleh Ketua Fed Jerome Powell disebut sebagai “dalih” untuk menekan kebijakan agar lebih longgar.
Meski begitu, Goolsbee menegaskan ia masih melihat peluang suku bunga bisa lebih rendah ke depan—asal ada bukti nyata inflasi benar-benar bergerak konsisten menuju target 2%. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id