Tarif 100% ke China: Ancaman Serius atau Sekadar Gertak Trump?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang pasar global dengan ancaman tarif 100% terhadap impor dari China. Namun, menurut laporan riset Goldman Sachs, ancaman tersebut kemungkinan besar hanyalah strategi tekanan untuk mendapatkan posisi tawar lebih kuat menjelang pertemuan APEC yang akan digelar akhir bulan ini.
Tim riset Goldman Sachs menilai bahwa langkah Trump ini lebih bersifat taktis ketimbang agresif, dan kemungkinan besar akan berujung pada perpanjangan jeda tarif yang saat ini berlaku hingga setelah 10 November. Kedua negara diperkirakan akan memberikan beberapa konsesi kecil guna menjaga hubungan dagang tetap stabil.
Meski begitu, Goldman Sachs mengingatkan bahwa risiko ketidakpastian meningkat, karena kebijakan terbaru dari kedua pihak menunjukkan spektrum hasil yang lebih luas dibanding perundingan sebelumnya. Artinya, peluang adanya kompromi besar memang ada, tetapi kemungkinan pembatasan ekspor baru atau tarif tambahan juga tidak bisa diabaikan.
Ancaman baru dari Trump ini muncul di tengah ketegangan dagang yang kembali memanas, yang sebelumnya sudah berdampak pada pasar komoditas seperti emas dan perak. Investor kini menanti sinyal lebih jelas dari kedua negara menjelang forum APEC, yang bisa menentukan arah hubungan dagang global ke depan.
Poin Penting:
Trump ancam tarif 100% pada impor dari China.
Goldman Sachs menilai langkah ini sebagai strategi negosiasi, bukan langkah final.
Diperkirakan akan ada perpanjangan jeda tarif dan konsesi terbatas.
Risiko tetap tinggi: bisa muncul tarif baru atau pembatasan ekspor.
Ketegangan dagang ini berpotensi mengguncang pasar global menjelang APEC.(asd)
Sumber: Newsmaker.id