AS - Iran Siapkan Putaran Kedua, Blokade Hormuz Jadi Ujian Ceasefire
AS dan Iran disebut tengah mempertimbangkan putaran kedua pembicaraan damai sebelum masa gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April berakhir pekan depan. Sejumlah sumber menyebut opsi yang dibahas termasuk kembali ke Pakistan—lokasi putaran awal akhir pekan lalu—meski alternatif tempat lain juga masuk pertimbangan.
Di saat jalur diplomasi dicoba dijaga, Washington tetap menjalankan blokade angkatan laut di Selat Hormuz untuk menekan ekspor minyak Iran, ketika perebutan kendali jalur air strategis itu meningkatkan ketegangan. Iran disebut mempertimbangkan untuk menahan respons terhadap efektivitas blokade dalam jangka pendek, sebagai langkah yang dapat meredakan tensi dan membuka ruang pembicaraan lanjutan.
Presiden AS Donald Trump mengklaim pihaknya “dihubungi oleh orang-orang yang tepat” dan menyebut ada keinginan untuk membuat kesepakatan, beberapa jam setelah Angkatan Laut AS mulai menegakkan blokade untuk mencegah kapal menuju pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Trump juga memperingatkan Iran agar tidak memungut biaya terhadap kapal yang melintas, dengan alasan “dunia tidak bisa diancam atau diperas.”
Di jalur pelayaran, blokade mulai diuji oleh pergerakan kapal-kapal tertentu. Sebuah kapal tanker jarak menengah Rich Starry—yang disebut terkait dengan China dan dikenai sanksi AS—dilaporkan mencoba melintasi Hormuz untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari 24 jam, sementara kapal Elpis disebut telah melewati selat beberapa jam sebelumnya. Dinamika ini menjadi sorotan karena sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG global melintasi Hormuz.
Dari sisi diplomasi, Swiss menyatakan siap memberi dukungan untuk mengakhiri konflik di tengah spekulasi pembicaraan dapat berlangsung di Jenewa, yang sebelumnya pernah menjadi tuan rumah diskusi terkait program nuklir Iran. Namun, perang yang telah merusak infrastruktur dan mengganggu aliran energi juga menambah tekanan inflasi global; Badan Energi Internasional menyebut kenaikan harga bahan bakar seperti avtur dan bensin sudah membebani konsumen, sekaligus mengindikasikan penurunan tahunan pertama permintaan minyak global sejak 2020.
Sementara pertempuran disebut banyak mereda sejak gencatan 7 April, pengecualian terjadi di Lebanon ketika Israel melanjutkan operasi terhadap Hizbullah yang didukung Iran. Pembicaraan Israel–Lebanon dijadwalkan berlangsung di Washington pada Selasa untuk meredakan konflik, menambah satu lagi variabel yang dapat memengaruhi stabilitas regional. Pasar kini menunggu apakah putaran kedua AS–Iran benar-benar terwujud, di mana lokasinya, dan apakah langkah di Hormuz bergerak menuju pelonggaran atau justru eskalasi.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id