Tekanan Global Naik, Trump Lanjutkan Operasi Iran dan Hormuz Terkunci
Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan internasional yang meningkat setelah menegaskan dalam pidato utamanya bahwa operasi perang melawan Iran akan berlanjut selama dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan itu memicu gejolak baru di pasar energi, sementara belum ada tanda Selat Hormuz akan segera dibuka kembali, meski jalur ini krusial bagi arus minyak dan gas global.
Respons dari sekutu dan negara kawasan menunjukkan perbedaan pendekatan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai upaya membuka Hormuz lewat cara militer “tidak realistis” dan mendorong konsultasi dengan Iran. Uni Emirat Arab mendesak PBB untuk mengizinkan langkah-langkah, termasuk opsi militer, guna memulihkan pengiriman energi, di tengah kekhawatiran krisis pasokan. Iran, di sisi lain, menyatakan telah menerima pesan AS melalui perantara namun menilai tuntutan Washington “maksimalis dan tidak logis,” sembari melanjutkan serangan rudal dan drone di kawasan Teluk.
Ketegangan itu langsung tercermin pada harga dan aset keuangan. Brent naik sekitar 8% ke atas US$109 per barel, sementara diesel berjangka Eropa melampaui US$200 per barel, level tertinggi sejak 2022, menegaskan risiko inflasi yang kembali menguat. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik dan saham global melemah, memperkuat kekhawatiran skenario stagflasi—tekanan inflasi yang lebih tinggi dengan pertumbuhan yang melambat—jika gangguan energi berkepanjangan.
Di bidang keamanan, Kedutaan Besar AS di Baghdad memperingatkan potensi serangan milisi Irak dalam dua hari ke depan, termasuk terhadap warga negara Amerika. Israel juga dilaporkan mengalami salah satu serangan rudal Iran terbesar sejak konflik pecah akhir Februari, sementara Israel menyatakan telah menyerang sejumlah target militer Iran, termasuk lokasi yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi dan penyimpanan rudal balistik.
Selat Hormuz tetap menjadi titik penentu bagi pasar. Jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dan LNG dunia itu sebagian besar tertutup sejak permusuhan dimulai, dan Brent disebut telah melonjak sekitar 60% sejak perang pecah. Trump menegaskan guncangan energi akan mereda setelah perang berhenti, namun tidak merinci bagaimana AS akan meyakinkan Iran agar lalu lintas kembali normal, selain menyerukan sekutu yang bergantung pada pasokan Timur Tengah untuk “menjaga jalur tersebut.”
Di level diplomasi, Inggris memimpin pertemuan virtual dengan menteri luar negeri dari sekitar 35 negara, termasuk UEA, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang, untuk membahas pemulihan kebebasan navigasi di Hormuz—dengan AS tidak dijadwalkan hadir. Rencana yang dibahas mencakup tiga jalur: diplomatik, ekonomi, dan militer, dengan fokus awal pada diplomasi melalui negara-negara yang memiliki kanal komunikasi ke Teheran; jika gagal, opsi sanksi ekonomi yang menarget industri minyak dan perkapalan Iran dapat dipertimbangkan.
UEA juga mendorong Dewan Keamanan PBB mengambil “tindakan segera” untuk memastikan navigasi aman dan hak kebebasan pelayaran di sekitar Hormuz. Meski resolusi tersebut tidak membentuk misi PBB baru, dukungan PBB dinilai dapat memberi payung diplomatik bagi negara Teluk jika mereka memilih melakukan operasi militer atau membentuk gugus tugas angkatan laut untuk membantu membuka kembali jalur tersebut.(alg)
Sumber: Newsmaker.id