Rudal Iran Dilaporkan Hantam Kapal di Hormuz, Harga Minyak Mulai Naik
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran dilaporkan menembakkan sedikitnya dua rudal ke kapal komersial yang melintasi jalur strategis tersebut pada Senin malam. Insiden ini menjadi ujian baru bagi kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya bertujuan menghentikan serangan di kawasan tersebut.
Menurut laporan Axios yang mengutip pejabat Amerika Serikat, dua kapal mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut. Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Pusat United Kingdom Maritime Trade Operations atau UKMTO juga menyebut telah menerima laporan sebuah tanker terkena proyektil tidak dikenal sekitar 8 mil laut atau 15 kilometer di sebelah timur Limah, Oman.
Kabar serangan ini langsung memengaruhi harga energi global. Harga minyak Brent naik sekitar 0,4 persen ke kisaran US$72,25 per barel setelah laporan tersebut muncul. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur penting bagi distribusi energi dunia.
Serangan tersebut terjadi di tengah agenda Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dijadwalkan menghadiri KTT para pemimpin NATO di Ankara, Turki. Konflik AS dan Iran diperkirakan menjadi salah satu pembahasan utama, terutama setelah Trump sebelumnya menyampaikan kekecewaan terhadap sejumlah anggota NATO yang dinilai belum cukup membantu Amerika Serikat menghadapi Iran.
Sementara itu, pembicaraan antara AS dan Iran masih berada dalam tekanan. Dialog kedua negara sempat tertunda setelah Iran menggelar rangkaian prosesi pemakaman untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada hari pertama konflik pada akhir Februari. Qatar menyatakan pertemuan berikutnya akan dijadwalkan secepat mungkin setelah prosesi pemakaman selesai.
Kesepakatan damai sementara yang dicapai bulan lalu memberikan ruang negosiasi selama 60 hari antara Washington dan Teheran. Namun, upaya untuk mengubah kesepakatan sementara menjadi perdamaian permanen masih menghadapi banyak tantangan. Beberapa isu utama yang belum terselesaikan mencakup pembekuan aset Iran, biaya transit melalui Selat Hormuz, serta ambisi nuklir Iran.
Dari sisi pasar, insiden ini kembali mengingatkan investor bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Jika ketegangan berlanjut dan mengganggu arus energi global, harga minyak berpotensi kembali menguat. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memengaruhi sentimen pasar terhadap aset safe haven seperti emas.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id