Trump Optimistis, Tapi Gencatan AS-Iran Masih Rapuh
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negosiator telah mencatat kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Iran. Kedua negara tengah berupaya menjaga gencatan senjata sementara dan mengubahnya menjadi kesepakatan damai yang lebih permanen.
Utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushkoff, dan menantunya, Jared Kushner, berada di Qatar pada Selasa (30/6) untuk membahas kelanjutan kesepakatan awal antara Washington dan Teheran. Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan penyelesaian konflik dan sejumlah isu penting yang masih menjadi hambatan.
Trump mengatakan pertemuan di Qatar berjalan sangat baik. Ia menyebut Amerika Serikat dan Iran mulai “berjalan bersama dengan baik,” meskipun tidak memberikan rincian spesifik mengenai terobosan yang telah dicapai dalam pembicaraan tersebut.
Witkoff dan Kushner juga bertemu dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, di Doha untuk membahas perkembangan negosiasi. Dalam pernyataan Qatar, pihak Amerika Serikat disebut berkomitmen untuk melanjutkan proses perundingan.
Namun, situasi di lapangan masih rapuh. Gencatan senjata sempat terguncang pekan lalu setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan balasan menyusul serangan drone Iran terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.
Serangan tersebut menunjukkan bahwa Teheran masih ingin mempertahankan pengaruh terhadap jalur pelayaran strategis tersebut. Selat Hormuz menjadi titik penting karena menghubungkan produsen energi Teluk Persia dengan pasar global. Isu pengelolaan jalur ini menjadi salah satu hambatan utama dalam pembicaraan.
Selain Selat Hormuz, masa depan program nuklir Iran juga tetap menjadi isu besar. Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia menyebut proses yang sedang berlangsung sebagai bagian dari upaya denuklirisasi.
Di sisi lain, laporan Wall Street Journal menyebut Trump sempat mempertimbangkan kembali opsi perang penuh dengan Iran. Ia disebut telah berdiskusi dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine mengenai opsi militer, tetapi untuk saat ini masih memilih jalur diplomasi.
Bagi pasar global, perkembangan pembicaraan AS-Iran sangat penting karena berkaitan langsung dengan risiko geopolitik, harga minyak, inflasi, dan arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika negosiasi terus membaik, tekanan pada harga energi bisa mereda. Namun, jika gencatan senjata kembali dilanggar, volatilitas pasar minyak dan aset safe haven seperti emas berpotensi meningkat.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump memberi sinyal optimisme terhadap proses diplomasi. Namun, belum adanya rincian konkret dan masih adanya ketegangan di Selat Hormuz membuat pasar tetap berhati-hati. Selama kesepakatan permanen belum tercapai, risiko geopolitik Timur Tengah masih akan menjadi faktor utama yang dipantau investor.(arl)
Sumber: Newsmaker.id