• Tue, Jun 23, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

23 June 2026 13:01  |

Damai AS-Iran Masih Abu-abu!

Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran ternyata belum benar-benar meredakan ketegangan. Meski kedua pihak telah menandatangani kerangka perdamaian selama 60 hari, Washington dan Teheran masih memiliki tafsir berbeda mengenai isi perjanjian tersebut. Perbedaan paling tajam muncul pada tiga isu utama, yaitu kendali atas Selat Hormuz, penggunaan dana Iran yang dicairkan, serta posisi Lebanon dalam kesepakatan regional.

Dari sisi Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menggambarkan kesepakatan itu sebagai bukti bahwa Washington masih memegang kendali besar atas situasi. Trump menyebut Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan dapat kembali menerapkan blokade jika Iran tidak mematuhi kesepakatan tersebut. Ia juga mengatakan minyak mentah sudah kembali mengalir melalui jalur tersebut, sehingga harga energi dapat turun dan ekonomi global terhindar dari tekanan yang lebih berat.

Namun, Iran menyampaikan versi yang berbeda. Teheran menilai kesepakatan itu bukan berarti Amerika Serikat menguasai Selat Hormuz, melainkan hanya pembentukan jalur komunikasi untuk mencegah konflik dan menjaga keamanan pelayaran. Dengan kata lain, Iran melihat pengaturan tersebut sebagai mekanisme komunikasi antara dua pihak yang setara, bukan bentuk penyampaian kendali jalur strategi kepada Washington. Perbedaan tafsir ini membuat status Hormuz tetap menjadi titik rawan dalam proses damai.

Perbedaan juga muncul pada penggunaan dana Iran yang sebelumnya dibekukan. Trump menyatakan bahwa dana tersebut seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pangan bagi rakyat Iran. Namun, dari pihak Teheran, pejabat bank sentral Iran menyatakan bahwa dana yang dicairkan tidak harus digunakan hanya untuk barang kebutuhan pokok. Iran juga menegaskan tidak memiliki kewajiban membeli input pertanian dari Amerika Serikat selama barang yang dibeli tidak masuk daftar sanksi.

Isu Lebanon juga menjadi bagian penting dari ketidakjelasan kesepakatan. Iran menyebutkan bahwa berdasarkan pembicaraan di Swiss, Amerika Serikat dan Iran sama-sama menjamin integritas wilayah Lebanon. Namun, bagi Washington, permasalahan Lebanon masih dikaitkan dengan aktivitas Hizbullah dan keamanan Israel. Perbedaan tampilan ini menunjukkan bahwa gencatan senjata memang berhasil menurunkan ketegangan sementara, tetapi belum menyelesaikan akar masalah. Selama kedua pihak belum sepakat pada tafsir yang sama, pasar global masih akan melihat kesepakatan AS-Iran sebagai perjanjian damai yang rapuh dan berisiko kembali memanas kapan saja.

Dampaknya, dolar cenderung menguat, emas sulit naik karena ekspektasi suku bunga tinggi yang tertekan, sementara harga minyak paling fluktuatif. Jika Hormuz aman dan pasokan Iran pulih, minyak turun. Namun jika konflik memanas lagi, minyak bisa melonjak dan justru menekan emas lewat kekhawatiran inflasi.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

China Konfirmasi Kunjungan Trump, Pasar Siaga!

Tiongkok mengumumkan rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada 13–15 Mei, dengan agenda pertemuan tingkat...

11 May 2026 08:12
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai