• Mon, Jun 22, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

22 June 2026 18:45  |

Kesepakatan AS-Iran Diuji, Hormuz dan Lebanon Jadi Titik Rawan

Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran masih menghadapi jalan terjal. Meski pembicaraan tingkat tinggi di Swiss disebut menghasilkan kemajuan, pasar global tetap berhati-hati karena sejumlah isu besar belum sepenuhnya selesai. Mulai dari program nuklir Iran, ketegangan Israel dan Hezbollah di Lebanon, hingga kendali Tehran atas Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang dapat menggagalkan proses diplomasi.

Mediator Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan. Pembicaraan teknis juga dijadwalkan berlanjut pekan ini untuk membahas detail kesepakatan. Namun, optimisme tersebut belum cukup untuk menghapus kekhawatiran pasar, terutama setelah Trump kembali mengancam akan menyerang Iran jika kelompok proksi Tehran di Lebanon terus memicu ketegangan terhadap Israel.

Masalah Selat Hormuz menjadi salah satu tekanan terbesar dalam negosiasi. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan dapat langsung mengguncang harga minyak dan sentimen pasar global. Iran sebelumnya kembali menyatakan penutupan jalur tersebut sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Meski Amerika Serikat menyebut lalu lintas kapal masih berjalan, jumlah kapal yang melintas dilaporkan menurun tajam karena pelaku pelayaran, perusahaan asuransi, dan pelaku pasar energi memilih lebih berhati-hati.

Di sisi lain, posisi tawar Trump dinilai tidak sekuat sebelumnya. Setelah perang berlangsung berbulan-bulan dan Iran tetap mampu mempertahankan stabilitas pemerintahannya, tekanan militer Amerika Serikat dinilai tidak lagi memberi efek sebesar sebelumnya. Trump juga menghadapi kritik dari kelompok konservatif di dalam negeri yang menilai pemerintahannya terlalu banyak memberikan konsesi kepada Iran demi menghentikan perang dan menjaga stabilitas harga energi.

Bagi pasar global, perkembangan ini menjadi perhatian besar karena berkaitan langsung dengan harga minyak, inflasi, dolar AS, saham, hingga aset safe haven seperti emas. Jika pembicaraan teknis berjalan lancar, tekanan terhadap harga energi berpotensi mereda. Namun, apabila konflik di Lebanon kembali memburuk atau Iran memperketat akses di Selat Hormuz, risiko lonjakan harga minyak masih terbuka dan dapat kembali menekan prospek ekonomi global.(arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

China Konfirmasi Kunjungan Trump, Pasar Siaga!

Tiongkok mengumumkan rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada 13–15 Mei, dengan agenda pertemuan tingkat...

11 May 2026 08:12
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai