Kesepakatan AS-Iran Diuji, Hormuz dan Lebanon Jadi Titik Rawan
Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran masih menghadapi jalan terjal. Meski pembicaraan tingkat tinggi di Swiss disebut menghasilkan kemajuan, pasar global tetap berhati-hati karena sejumlah isu besar belum sepenuhnya selesai. Mulai dari program nuklir Iran, ketegangan Israel dan Hezbollah di Lebanon, hingga kendali Tehran atas Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang dapat menggagalkan proses diplomasi.
Mediator Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan. Pembicaraan teknis juga dijadwalkan berlanjut pekan ini untuk membahas detail kesepakatan. Namun, optimisme tersebut belum cukup untuk menghapus kekhawatiran pasar, terutama setelah Trump kembali mengancam akan menyerang Iran jika kelompok proksi Tehran di Lebanon terus memicu ketegangan terhadap Israel.
Masalah Selat Hormuz menjadi salah satu tekanan terbesar dalam negosiasi. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan dapat langsung mengguncang harga minyak dan sentimen pasar global. Iran sebelumnya kembali menyatakan penutupan jalur tersebut sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Meski Amerika Serikat menyebut lalu lintas kapal masih berjalan, jumlah kapal yang melintas dilaporkan menurun tajam karena pelaku pelayaran, perusahaan asuransi, dan pelaku pasar energi memilih lebih berhati-hati.
Di sisi lain, posisi tawar Trump dinilai tidak sekuat sebelumnya. Setelah perang berlangsung berbulan-bulan dan Iran tetap mampu mempertahankan stabilitas pemerintahannya, tekanan militer Amerika Serikat dinilai tidak lagi memberi efek sebesar sebelumnya. Trump juga menghadapi kritik dari kelompok konservatif di dalam negeri yang menilai pemerintahannya terlalu banyak memberikan konsesi kepada Iran demi menghentikan perang dan menjaga stabilitas harga energi.
Bagi pasar global, perkembangan ini menjadi perhatian besar karena berkaitan langsung dengan harga minyak, inflasi, dolar AS, saham, hingga aset safe haven seperti emas. Jika pembicaraan teknis berjalan lancar, tekanan terhadap harga energi berpotensi mereda. Namun, apabila konflik di Lebanon kembali memburuk atau Iran memperketat akses di Selat Hormuz, risiko lonjakan harga minyak masih terbuka dan dapat kembali menekan prospek ekonomi global.(arl)
Sumber : Newsmaker.id