• Tue, Jun 2, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

28 May 2026 11:53  |

IRGC Klaim Targetkan Pangkalan Udara AS, Market Bergejolak!

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis, 28 Mei 2026 menyatakan telah menargetkan sebuah pangkalan udara Amerika Serikat sekitar pukul 04.50 waktu setempat, sebagai respons atas serangan AS di dekat Bandar Abbas. IRGC tidak menyebutkan pangkalan mana yang dimaksud dan memperingatkan respons akan lebih tegas jika ada “agresi” lanjutan.

Pernyataan itu muncul setelah serangan AS pada Rabu, 27 Mei 2026 yang menurut pejabat AS bersifat defensif, termasuk menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas serta menembak jatuh empat drone serang satu arah Iran di sekitar Selat Hormuz. AS menyebut lokasi yang diserang merupakan stasiun kendali darat yang bersiap meluncurkan drone tambahan.

Eskalasi terbaru ini menambah ketidakpastian di saat jalur diplomasi masih berjalan. Kedua pihak sebelumnya menyatakan ada kemajuan menuju kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz, namun laporan Reuters menyebut pertukaran serangan membuat risiko runtuhnya pembicaraan meningkat.

Bagi pasar, dinamika ini menjaga premi risiko geopolitik tetap “lengket”, terutama pada aset yang sensitif terhadap kelancaran pasokan energi. Ketika risiko gangguan Hormuz naik, volatilitas minyak biasanya meningkat dan dapat kembali mengangkat kekhawatiran inflasi energi, yang kemudian memengaruhi ekspektasi suku bunga dan pergerakan dolar.

Variabel yang dipantau berikutnya adalah konfirmasi kerusakan atau dampak nyata dari klaim IRGC, respons lanjutan AS, serta setiap sinyal resmi tentang status gencatan senjata dan mekanisme pembukaan Hormuz. Selama belum ada kepastian eksekusi, pasar berpotensi tetap bergerak headline-driven.

Kombinasi eskalasi militer dan sanksi terbaru AS cenderung mengangkat minyak karena premi risiko pasokan kembali masuk harga, khususnya selama status operasional Hormuz belum jelas; pada saat yang sama, dolar biasanya ikut menguat saat investor jadi lebih hati-hati dan mencari aset yang dianggap lebih aman. Dampaknya ke emas lebih “tarik-menarik”: ketegangan geopolitik bisa mendukung permintaan safe haven, tetapi jika minyak yang lebih tinggi memperkuat narasi inflasi dan suku bunga “higher for longer”, maka emas sering tertekan karena beban yield dan dolar yang lebih kuat.(asd)*

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

China Konfirmasi Kunjungan Trump, Pasar Siaga!

Tiongkok mengumumkan rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada 13–15 Mei, dengan agenda pertemuan tingkat...

11 May 2026 08:12
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai