Israel Perluas Operasi di Lebanon Saat Negosiasi AS–Iran Bergerak Lambat
Israel meningkatkan serangan di Lebanon dan menyatakan pasukan daratnya akan bergerak lebih jauh ke dalam wilayah tersebut, sebuah langkah yang berpotensi memperumit pembicaraan AS–Iran mengenai kesepakatan damai sementara. Militer Israel mengatakan operasi darat akan melampaui koridor sekitar 10 kilometer di selatan Lebanon, di tengah pertempuran melawan Hezbollah yang didukung Iran.
Pendalaman operasi dan serangan Israel di Lebanon—yang disebut telah menewaskan ribuan orang dan memaksa lebih dari satu juta mengungsi—terjadi saat negosiasi Iran dan AS untuk memperpanjang gencatan senjata sekitar dua bulan dan membuka kembali Selat Hormuz masih berjalan lambat. Israel juga meningkatkan serangan di lokasi lain dan pada Selasa dilaporkan membunuh pemimpin baru sayap militer Hamas di Gaza, kelompok lain yang bersekutu dengan Teheran.
Iran menegaskan gencatan senjata harus mencakup “semua front”, termasuk Lebanon. Israel, yang ikut memulai eskalasi perang lebih luas ketika membombardir Iran pada akhir Februari bersama AS, disebut enggan menerima pembatasan apa pun terhadap operasinya di negara tetangga utara, dengan alasan perlindungan komunitasnya dari roket dan drone Hezbollah. Meski Iran dan AS sama-sama menyatakan ada kemajuan dalam pembicaraan melalui mediator seperti Pakistan dan Qatar, Menlu AS Marco Rubio mengatakan pada Selasa bahwa kesepakatan masih membutuhkan beberapa hari.
Ketegangan tetap tinggi di sekitar Hormuz. Pada Senin malam, AS dilaporkan menewaskan beberapa tentara Iran dalam serangan terhadap kapal yang diklaim sedang menebar ranjau di dekat selat; Iran kemudian membalas tembakan ke jet AS dan menyatakan telah menjatuhkan drone tanpa awak. Ali Bagheri-Kani, wakil sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan kontak tidak langsung dengan AS masih berlanjut, namun menegaskan selama semua isu belum disepakati, “tidak ada yang disepakati”.
Salah satu titik sengketa utama adalah apakah Iran akan mengizinkan kapal melintas bebas di Selat Hormuz jika kesepakatan sementara tercapai, yang juga akan mencakup pencabutan blokade AS atas pelabuhan Iran. Washington menilai lintasan bebas harus dijamin, sementara Teheran ingin mengontrol lalu lintas maritim di jalur sempit yang dalam kondisi normal mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Bagheri-Kani mengatakan prosedur lintas Hormuz tidak akan sama seperti sebelumnya dan Iran bersama Oman sedang membahas mekanisme baru.
Isu lain yang belum selesai adalah porsi aset keuangan Iran yang akan dibuka dan seberapa cepat prosesnya dilakukan. Media pemerintah Iran pada Selasa menyebut Teheran menginginkan US$12 miliar dicairkan setelah memorandum of understanding disepakati. Di AS, kelompok garis keras terhadap Iran—termasuk Senator Lindsey Graham—diperkirakan akan menolak skema tersebut dan menekan Trump untuk kembali meningkatkan serangan.
Di pasar energi, pelaku pasar disebut tetap optimistis kesepakatan akan tercapai, dengan Brent turun 3% pada Rabu ke bawah US$97 per barel dan telah melemah lebih dari 5% pekan ini. Namun level Brent masih jauh lebih tinggi dibanding saat perang dimulai, mencerminkan pandangan bahwa pemulihan arus pasokan akan memakan waktu berbulan-bulan jika dan ketika Hormuz benar-benar dibuka kembali.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id