Iran Tembakkan Rudal ke UEA, Serangan Pertama Sejak Gencatan Senjata
Iran menyerang Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (4/5) untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Republik Islam. UEA mengatakan pihaknya mencegat rudal jelajah Iran yang ditembakkan ke sejumlah wilayah, memecah ketenangan rapuh sejak gencatan senjata antara Teheran dan aliansi AS–Israel mulai berlaku sekitar awal April.
Sejumlah peringatan darurat dikirim ke ponsel warga di Dubai dan emirat lain termasuk Abu Dhabi, yang mengimbau masyarakat menuju area aman. Di Fujairah, sebuah terminal minyak yang sebagian dimiliki Vitol Group dilaporkan menjadi sasaran, menurut sumber yang mengetahui insiden tersebut. Kantor media Fujairah menyatakan kebakaran besar terjadi di zona industri minyak setelah serangan drone dari Iran, dan tiga orang dilaporkan terluka.
Serangan terbaru ini menegaskan rapuhnya gencatan senjata. Konflik dimulai pada akhir Februari setelah serangan AS dan Israel ke Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan peluncuran ribuan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Arab Teluk. Dalam periode konflik tersebut, korban jiwa dilaporkan mencapai ribuan, terutama di Iran dan Lebanon, di mana Israel juga menjalankan konflik paralel melawan Hezbollah yang didukung Iran.
UEA disebut menjadi salah satu target paling sering. Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan terbaru sebagai “eskalasi berbahaya” dan menegaskan negara itu tidak akan menoleransi ancaman terhadap keamanan dan kedaulatannya, serta menyatakan memiliki hak penuh untuk merespons. Pemerintah UEA juga kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh mulai Selasa hingga Jumat untuk seluruh jenjang pendidikan, setelah sebelumnya kebijakan serupa diberlakukan pada periode Maret hingga pertengahan April sebelum sekolah kembali tatap muka.
Insiden ini terjadi beberapa jam setelah sebuah tanker milik Abu Dhabi National Oil Co. dilaporkan ditembaki drone Iran di dekat Selat Hormuz. Serangan juga terjadi tak lama setelah AS memulai operasi yang disebut Presiden Donald Trump sebagai upaya “kemanusiaan” untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia keluar melalui selat tersebut. Militer AS mengatakan dua kapal dagang berbendera AS telah melintasi Hormuz dalam rangkaian operasi itu.
Iran sebelumnya memperingatkan akan menyerang pasukan AS jika mendekati Hormuz dan meminta kapal komersial tidak melintasi jalur itu tanpa izin. Bagi pasar, kombinasi serangan langsung ke wilayah Teluk dan eskalasi di sekitar Hormuz memperkuat risiko gangguan pasokan energi dan menaikkan premi risiko geopolitik yang kembali membayangi aset berisiko.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id