Pakistan Kejar Perpanjangan Gencatan Senjata, Risk-On Menguat Lagi
Pakistan meningkatkan upaya agar Amerika Serikat dan Iran memperpanjang gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pekan depan, untuk memberi waktu tambahan bagi kedua pihak merundingkan kesepakatan damai yang lebih permanen. Ekspektasi pasar terhadap perpanjangan jeda konflik meningkat dalam dua hari terakhir, dengan sejumlah bursa global membalik kerugian sejak perang dan sebagian mencetak rekor baru.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan, Washington dan Teheran mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua pekan. Namun hingga kini kedua pihak menyatakan belum ada kesepakatan yang melampaui batas waktu akhir Selasa malam waktu AS. White House juga menyebut belum ada permintaan perpanjangan secara formal, meski mengakui negosiasi masih berjalan dan Pakistan menjadi satu-satunya mediator.
Di sisi pasar, MSCI All Country World Index naik hingga 0,3% ke rekor dan menuju hari kenaikan beruntun ke-10, terpanjang sejak September. Saham Asia menguat 1,3% dan hampir menghapus pelemahan yang dipicu perang. Brent bertahan di sekitar US$95 per barel, jauh di bawah puncak bulan lalu yang mendekati US$120, namun pemulihan arus energi Teluk masih menjadi pertanyaan besar.
Titik krusial tetap Selat Hormuz. AS masih menjalankan blokade yang dimulai Senin terhadap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran, setelah pembicaraan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Iran menilai blokade berkepanjangan sebagai “pendahuluan” pelanggaran gencatan senjata, dan memperingatkan ekspor-impor di Teluk Persia, Laut Oman, hingga Laut Merah bisa ikut terdampak jika blokade berlanjut. Di saat yang sama, isu pembukaan Hormuz, program nuklir dan rudal Iran, serta pelonggaran sanksi tetap menjadi agenda paling sulit.
Pakistan menempatkan dirinya di pusat diplomasi. Kepala angkatan darat Pakistan Asim Munir melakukan kunjungan ke Iran pada Rabu dan disambut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, melanjutkan rangkaian mediasi setelah Pakistan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi akhir pekan lalu. Namun Washington juga meningkatkan tekanan: laporan menyebut AS mengirim ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Kompleksitas bertambah dari jalur Lebanon. Israel menghentikan serangan ke Iran pekan lalu, tetapi melanjutkan kampanye melawan Hizbullah di Lebanon dan berencana memperluas buffer zone. Ada pembicaraan mengenai potensi gencatan senjata di Lebanon, namun belum ada keputusan. AS menyatakan negosiasi Israel–Lebanon terpisah dari pembicaraan AS–Iran, meski meredanya perang di Lebanon dipandang bisa menurunkan ketegangan yang membebani jalur diplomasi.
Bagi pasar, perpanjangan gencatan senjata berpotensi menurunkan premi risiko energi dan menahan tekanan inflasi, tetapi pemulihan arus Teluk bisa memakan waktu bahkan jika ada kesepakatan. Risiko lanjutan juga mencakup gangguan pasokan non-energi seperti pupuk, yang dapat menekan produksi pangan dan harga, dengan PBB menyatakan kesiapan menyiapkan koridor pengiriman pupuk melalui Hormuz jika ada kesepakatan politik.
Pelaku pasar akan memantau konfirmasi perpanjangan gencatan senjata sebelum batas waktu akhir Selasa, status dan aturan blokade AS, volume pelayaran riil di Hormuz, arah Brent, perkembangan isu nuklir dan sanksi, serta eskalasi Israel–Hizbullah yang dapat menguji ketahanan proses diplomasi.(Arl)
Sumber: Newsmaker.id