Trump Klaim Perang “Hampir Selesai”, Pasar Reprice Energi
Presiden AS Donald Trump memberi sinyal konflik dengan Iran bisa segera mereda, memicu perbaikan sentimen pasar dan membantu menstabilkan kembali harga energi global. Trump mengatakan pembicaraan dengan Teheran bisa dimulai lagi “dalam dua hari ke depan”, serta mengisyaratkan perpanjangan gencatan senjata dua pekan yang disepakati pekan lalu mungkin tidak diperlukan—tanpa merinci bentuk kemajuan yang dimaksud.
Perubahan nada Washington muncul setelah AS menerapkan blokade untuk membatasi ekspor minyak Iran. US Centcom menyatakan blokade telah sepenuhnya diberlakukan sejak Senin, dengan operasi laut yang menghambat pergerakan kapal di luar Selat Hormuz di Teluk Oman, termasuk memaksa sebagian kapal berbalik arah. Di saat bersamaan, sinyal dari lapangan tetap campuran: ada laporan supertanker tujuan Irak yang melintasi jalur tersebut dan menjadi kandidat crude carrier pertama yang menuju barat sejak blokade dimulai, sementara media semi-resmi Iran juga mengklaim supertanker Iran melintas ke perairan Iran meski tidak dikonfirmasi pihak AS.
Trump juga menyebut perang “mendekati akhir” dan menekankan preferensi pada kesepakatan, sembari meninggalkan ketidakpastian apakah AS akan tetap berada dalam jalur negosiasi atau menarik pasukan tanpa peta damai yang jelas. Pergeseran narasi dari “blokade total” menuju ekspektasi terobosan menyisakan banyak pertanyaan, termasuk status pengayaan uranium Iran. Israel menegaskan material harus dipindahkan, sementara Trump mengatakan tidak senang dengan laporan bahwa AS meminta moratorium dua dekade, sambil menekankan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Dampak pasar terlihat cepat. Trump yang memberi gambaran kemajuan diplomasi mendorong reli saham global, dengan sejumlah indeks besar menghapus penurunan sejak perang dimulai pada akhir Februari. Optimisme negosiasi juga membantu menjaga minyak bertahan di bawah US$100 per barel, meski kerusakan infrastruktur energi Teluk dan gangguan pasokan tetap meninggalkan jejak pada harga bahan bakar ritel di AS yang berada pada level musiman tertinggi. IEA memperingatkan lonjakan harga produk seperti avtur dan bensin mulai menekan konsumen, dan mengarah pada penurunan tahunan permintaan minyak global pertama sejak 2020.
Namun jalur transmisi ke inflasi belum sepenuhnya putus. Meski futures minyak melemah, harga crude fisik sempat mencerminkan kelangkaan yang lebih ekstrem, sehingga risiko “second-round effects” ke harga konsumen masih menjadi perhatian bank sentral. Dari sisi kebijakan, Departemen Keuangan AS menyatakan waiver yang sementara mengizinkan pembelian sebagian minyak Iran akan berakhir akhir pekan ini, yang berpotensi kembali mengencangkan persepsi pasokan jika arus Hormuz tidak segera pulih.
Pasar akan memantau tiga hal dalam 48 jam ke depan: kepastian jadwal dan agenda pembicaraan baru AS–Iran, bukti pemulihan arus kapal di Hormuz di bawah rezim blokade, serta sinyal kompromi terkait isu nuklir dan cakupan konflik regional yang masih bergulir.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id