• Wed, Mar 11, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

11 March 2026 17:52  |

Hormuz “Mandek”, Serangan Berlanjut, Dunia Siapkan Langkah Darurat Energi

Konflik AS–Israel melawan Iran memasuki fase yang semakin melebar dan berdampak langsung ke ekonomi global, terutama lewat jalur energi dan pelayaran. Hingga Rabu (11/3), serangan udara dan aksi balasan masih terus terjadi, sementara Iran dilaporkan memperketat kontrol domestik untuk meredam potensi gelombang penolakan di dalam negeri. Situasi ini menjaga pasar tetap dalam mode “headline-driven” karena satu perkembangan kecil saja bisa mengubah arah risiko secara cepat.

Pusat perhatian terbesar saat ini adalah Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya menyalurkan porsi besar ekspor minyak global. Reuters melaporkan Angkatan Laut AS menolak permintaan berulang dari industri pelayaran untuk pengawalan (escort) di Hormuz karena dinilai terlalu berisiko untuk saat ini. Kondisi tersebut membuat lalu lintas kapal komersial di Hormuz kian lumpuh, dan memperkuat ketakutan pasar bahwa masalah utama bukan cuma “produksi turun”, tetapi barel tidak bisa bergerak.

Di sisi medan perang, eskalasi juga terlihat pada serangan terhadap fasilitas energi. Reuters melaporkan serangan Israel yang menargetkan depot minyak dan kilang di sekitar Teheran memicu gumpalan asap hitam tebal yang menimbulkan kekhawatiran dampak kesehatan dan lingkungan. Iran mengecam serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya, sementara pihak Israel menyatakan fasilitas itu terkait dukungan perang sehingga dianggap target militer sah.

Dampak ke sektor energi kawasan Teluk mulai terlihat nyata. Konsultan IIR yang dikutip Reuters menyebut sekitar 1,9 juta barel per hari kapasitas kilang di kawasan Teluk terdampak shutdown/penurunan operasi akibat perang, dengan storage yang menipis dan hambatan ekspor ikut menekan rantai pasok produk olahan (diesel/jet fuel). Jika kondisi ini berlanjut, tekanan inflasi energi bisa merembet lebih luas karena bukan hanya minyak mentah yang terganggu, tetapi juga suplai BBM jadi makin ketat.

Menghadapi risiko krisis energi, jalur kebijakan darurat juga mulai menguat. Reuters melaporkan International Energy Agency (IEA) berencana merekomendasikan rilis lebih dari 100 juta barel dari cadangan strategis dalam bulan pertama untuk menstabilkan pasar jika gangguan pasokan makin parah. Ini sinyal bahwa otoritas energi global sedang masuk mode “damage control” untuk menahan shock inflasi akibat perang.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
GLOBAL

Ancaman BRICS Belum Berakhir!

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif 10% atas impor dari negara-negara anggota BRICS. Dalam komen...

21 July 2025 08:13
BIAS23.com NM23 Ai