Energi Dunia di Ujung Uji Nyali!
Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan memberikan jaminan asuransi kapal dan, jika diperlukan, pengawalan kapal tanker untuk memastikan kelancaran pengiriman energi dan perdagangan di Teluk, di tengah perang AS–Israel melawan Iran. Trump menyebut US International Development Finance Corporation (DFC) akan menawarkan asuransi “dengan harga wajar” dan menegaskan AS akan menjaga arus energi global tetap berjalan.
Pengumuman tersebut sempat meredakan sebagian “risk premium” di pasar energi, namun respon pelaku pasar tetap hati-hati. Banyak pihak menilai rencana pengawalan dan asuransi tidak serta merta mengembalikan arus kapal ke kondisi normal, karena masalah utamanya adalah risiko serangan di lapangan, bukan sekadar biaya polis.
Keraguan itu menguat karena konflik telah memicu gangguan nyata pada ekosistem pengapalan. Sejumlah laporan menyebutkan penanggung jawab perang risiko menarik perlindungan untuk kapal yang memasuki kawasan Teluk, memaksa pemilik kapal menghitung ulang biaya dan keamanan rute yang pada akhirnya membuat banyak kapal memilih menunggu atau menghindari jalur berbahaya.
Di sisi keamanan, situasi kawasan juga memburuk. Reuters melaporkan stasiun CIA di dalam Kedutaan Besar AS di Riyadh terkena serangan drone yang diduga terkait Iran, memperkuat sinyal bahwa eskalasi tidak terbatas pada area perang utama dan dapat menjalar ke titik-titik strategi lain di kawasan Teluk.
Pakar energi tekanan implementasi rencana AS bukanlah perkara cepat. Bob McNally dari Rapidan Energy menilai kemungkinan AS militer perlu terlebih dulu menekan kemampuan Iran untuk menyerang kapal (ranjau, rudal antikapal, drone), sehingga pemulihan arus Hormuz lebih realistis dihitung mingguan, tidak menghitung jam atau hari tergantung apakah Teheran memilih melanjutkan perlawanan.
Pandangan situasi dalam waktu dekat: pasar akan tetap “tegang” sampai ada bukti konkret bahwa lalu lintas kapal mulai kembali normal. Dalam beberapa hari ke depan, fokus utama ada pada: seberapa cepat skema DFC benar-benar beroperasi (premi, cakupan, siapa yang berani membeli), apakah pengawalan AS benar-benar berjalan, dan apakah serangan terhadap aset/kapal berkurang. Jika eskalasi berlanjut dan asuransi swasta tetap ditarik, gangguan pengapalan berpotensi bertahan yang berarti volatilitas energi dan risiko inflasi global kemungkinan tetap tinggi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id