AS–Iran Memanas di Selat Hormuz, Tapi Jalur Oman Tetap Jalan
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali naik ke permukaan pada Selasa (10 Feb 2026 WIB), saat Washington mengeluarkan panduan baru untuk kapal komersial berbendera AS yang melintas di Selat Hormuz—jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia. AS meminta kapal-kapalnya menjauh sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran, dan menolak secara verbal jika ada permintaan boarding. Namun, awak juga diingatkan tidak melakukan perlawanan bila boarding tetap terjadi demi menghindari eskalasi.
Langkah ini menunjukkan AS menilai risiko di kawasan Teluk masih serius, apalagi Selat Hormuz kerap menjadi titik rawan ketika tensi naik. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran beberapa kali mengancam akan menutup jalur tersebut dan sempat terjadi insiden penyitaan kapal yang diklaim terkait pelanggaran.
Di sisi lain, Iran memberi sinyal “opsi kompromi” di meja nuklir: kepala badan nuklir Iran menyatakan Teheran bisa mengencerkan (dilute) uranium yang diperkaya tinggi—yang disebut mencapai hingga 60%—jika seluruh sanksi finansial dicabut. Namun Iran menolak gagasan untuk mengirim stok uranium ke luar negeri, yang selama ini menjadi salah satu tuntutan utama AS.
Posisi kedua pihak masih berjarak. Reuters melaporkan AS ingin pembahasan melebar, termasuk isu program rudal balistik, dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, serta isu domestik/hak asasi—sementara Iran cenderung ingin fokus pada nuklir dan pencabutan sanksi.
Jalur diplomasi yang dimediasi Oman tetap bergerak. Iran menyebut putaran awal pembicaraan sebagai “awal yang baik”, meski kelanjutan negosiasi masih tergantung pembahasan lanjutan di masing-masing ibu kota.
Di tengah tensi ini, tokoh senior Iran Ali Larijani dijadwalkan/terkonfirmasi melakukan kunjungan ke Oman. Media melaporkan kunjungan tersebut berpotensi membawa pesan penting terkait jalur negosiasi nuklir dan de-eskalasi.
Buat pasar energi, kombinasi “ancaman di Hormuz” dan “negosiasi yang belum jelas ujungnya” biasanya memunculkan risk premium: harga bisa cepat naik saat ada headline keamanan, tapi juga cepat koreksi ketika muncul sinyal diplomasi. Itu sebabnya pelaku pasar saat ini cenderung reaktif pada update kecil sekalipun baik pergerakan kapal, pernyataan pejabat, maupun kabar jadwal perundingan berikutnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id