China Menyuntikkan Likuiditas Menjelang Tahun Baru Imlek, Apa Dampaknya ke Harga Emas?
Menjelang libur Imlek, Bank Sentral China (PBOC) kembali tancap gas menjaga perbankan tetap “banjir cash”. Tujuannya simpel: saat musim belanja, mudik, dan tradisi bagi-bagi angpau, permintaan uang tunai biasanya naik tajam kalau dibiarkan, pasar uang bisa seret dan bunga pendanaan melonjak.
Langkah paling kelihatan adalah injeksi dana besar lewat operasi pasar uang. Sejumlah laporan menyebut PBOC memasukkan 600 miliar yuan lewat repo tenor 14 hari, mengakhiri jeda dua bulan untuk operasi ini. Pasar menilai ini sebagai cara cepat menutup lubang likuiditas jelang libur panjang.
Kenapa harus segede itu? Karena jelang Imlek, bukan cuma masyarakat yang tarik cash. Ada juga faktor lain yang “nyedot” uang dari sistem: jatuh tempo pinjaman/operasi sebelumnya, kebutuhan dana perusahaan, sampai penerbitan obligasi pemerintah. Bloomberg bahkan menghitung potensi “gap” likuiditas jelang libur bisa sangat besar, makanya PBOC memilih main aman dari awal.
Di sisi lain, China juga masih jadi cerita penting buat emas karena satu hal: PBOC terus menambah cadangan emas sudah 15 bulan berturut-turut. Ini memperkuat narasi bahwa permintaan “resmi” dari bank sentral tetap ada, walaupun harga emas dunia lagi volatil.
Impact ke harga emas & korelasinya: suntikan likuiditas jelang Imlek biasanya bikin sentimen pasar lebih tenang/risk-on, jadi dalam jangka pendek emas bisa ketahan atau terkoreksi karena trader ambil untung. Tapi di saat bersamaan, likuiditas yang longgar + musim belanja Imlek sering ikut mengangkat permintaan emas fisik di China (perhiasan & hadiah), dan itu bisa jadi bantalan saat harga turun. Reuters mencatat permintaan China cenderung menguat menjelang Lunar New Year ketika harga sempat terkoreksi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id