Ancaman Perang Regional Muncul, Negosiasi Nuklir Jadi Taruhan
Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan potensi “perang regional” jika Iran diserang, di tengah meningkatnya ketegangan soal kemungkinan langkah militer Amerika Serikat. Dalam pidatonya kepada publik, ia menegaskan Iran tidak sedang mencari konflik, namun akan membalas “secara keras” bila ada pihak yang berniat menyerang atau merugikan Iran.
Ketegangan ini semakin terangkat setelah Donald Trump kembali menaikkan tekanan dan mendorong Iran untuk bernegosiasi ulang soal perjanjian nuklir. Trump juga mengisyaratkan optimisme “bisa membuat kesepakatan”, tetapi pada saat yang sama menekan pengerahan kekuatan militer AS di kawasan—membuat pesan yang terbaca pasar: pintu diplomasi dibuka, tapi tekanan tetap jalan.
Dari risiko sisi keamanan, Iran menyatakan bila AS menyerang, maka Israel dan pangkalan militer AS di kawasan bisa ikut jadi sasaran. Riwayat ancaman balasan ini bukan sekadar retorika bagi pasar, karena ketegangan Iran–AS sebelumnya juga pernah memicu aksi balas-serang ke fasilitas yang terkait kepentingan AS di wilayah tersebut.
Koordinasi keamanan juga terlihat menguat: pejabat senior Pasukan Pertahanan Israel yang dipimpin Kepala Staf Eyal Zamir dilaporkan berada di Washington untuk bertemu pejabat pertahanan AS, termasuk Dan Caine, di tengah pembahasan langkah antisipasi jika ketegangan meningkat. Di jalur diplomasi, beberapa negara seperti Qatar juga disebut melakukan komunikasi untuk menahan eskalasi.
Dampaknya terhadap emas & minyak (saat emas lagi turun): secara teori, berita ancaman perang biasanya mengangkat aset safe haven (emas) dan menambah “risk premium” pada minyak. Tapi sekarang emas sedang dalam fase turun karena pasar masih “bersih-bersih” setelah reli yang terlalu cepat (profit Taking + likuidasi) dan sebelumnya dolar sempat menguat setelah isu kepemimpinan Federal Reserve ikut berubah ekspektasi—jadi efek safe haven dari geopolitik bisa ketahan dulu oleh faktor teknikal/posisi yang lagi unwind. Sementara untuk oil, tensi Iran–AS cenderung lebih cepat memantul jadi premi risiko karena Timur Tengah krusial untuk suplai—jadi headline eskalasi biasanya lebih “mengangkat” minyak dibandingkan emas yang sedang ditekan koreksi. (asd)
Sumber : Newsmaker.id