Data EIA Beri Sinyal Campuran
Persediaan minyak mentah AS turun jauh lebih besar dari perkiraan pasar pada pekan yang berakhir 19 Juni. Stok crude oil AS merosot 6,088 juta barel menjadi 412,1 juta barel. Angka ini lebih besar dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 4,5 juta barel.
Penurunan stok minyak biasanya menjadi sinyal positif bagi harga crude karena menunjukkan pasokan domestik menyusut. Namun, respons pasar tidak sepenuhnya bullish karena faktor global masih menekan harga minyak. Pemulihan arus kapal melalui Selat Hormuz dan ekspektasi kembalinya sebagian ekspor minyak Iran membuat pasar lebih fokus pada potensi tambahan pasokan global.
Stok di Cushing, Oklahoma, yang menjadi titik pengiriman utama untuk kontrak WTI, juga turun 1,077 juta barel. Penurunan ini penting karena Cushing sering menjadi indikator ketat atau longgarnya pasokan minyak AS. Jika stok Cushing terus turun, pasar bisa melihat adanya risiko ketatnya pasokan lokal, terutama untuk kontrak WTI.
Namun, data produk energi memberi sinyal yang lebih lemah. Stok bensin justru naik 2,064 juta barel menjadi 216,3 juta barel, padahal pasar memperkirakan penurunan 600.000 barel. Stok distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, juga naik 3,064 juta barel menjadi 106,2 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan 500.000 barel. Kenaikan stok produk ini menunjukkan permintaan akhir belum cukup kuat untuk menyerap pasokan.
Aktivitas kilang juga sedikit melemah, dengan refinery crude runs turun 81.000 barel per hari. Di sisi lain, impor bersih minyak mentah naik 94.000 barel per hari. Kombinasi ini menunjukkan bahwa meskipun stok crude turun besar, pasar masih mencermati apakah penurunan tersebut berasal dari permintaan yang kuat atau hanya faktor pergerakan pasokan jangka pendek.
Ke depan, data ini memberi sinyal campuran bagi harga minyak. Penurunan stok crude dan Cushing bisa menahan pelemahan WTI, tetapi kenaikan stok bensin dan distilat dapat membatasi rebound. Jika harga minyak terus ditekan oleh pulihnya Hormuz dan potensi tambahan pasokan Iran, data stok AS yang bullish belum tentu cukup untuk membalikkan tren secara kuat. (arl)
Sumber : Newsmaker.id