Minyak Turun, Pasar Pantau Arus Kapal di Selat Hormuz
Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (23/6), seiring investor terus memantau perkembangan arus minyak melalui Selat Hormuz setelah adanya tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran.
Minyak Brent turun 82 sen atau 1,1% ke US$77,08 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI melemah 65 sen atau 0,9% ke US$73,21 per barel. Kedua acuan harga tersebut sempat menyentuh level terendah hampir empat bulan selama sesi perdagangan.
Tekanan terhadap harga minyak berlanjut setelah pada Senin harga sempat turun sekitar 3%. Sentimen pasar berubah lebih tenang setelah Amerika Serikat memberikan waiver sanksi selama 60 hari kepada Iran menyusul pembicaraan awal perdamaian. Selain itu, laporan mengenai meredanya konflik di Lebanon dalam kerangka kesepakatan yang lebih luas ikut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena jalur ini merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi global. Pada Selasa, Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembahasan mengenai masa depan pengelolaan navigasi di Selat Hormuz. Pembahasan ini penting karena pasar ingin memastikan apakah jalur tersebut benar-benar bisa kembali aman, terbuka, dan tidak menghambat arus kapal tanker minyak maupun gas alam cair.
Di sisi lain, Amerika Serikat menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengenakan biaya atau tol dalam kesepakatan akhir terkait Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pengenaan biaya di jalur penting tersebut akan bertentangan dengan hukum internasional. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Washington tetap ingin menjaga kebebasan navigasi di Hormuz, meskipun proses diplomasi dengan Iran mulai menunjukkan kemajuan.
Sebelumnya, perang Iran telah membuat pasokan minyak dan gas global terganggu besar. Selat Hormuz sempat tertutup selama lebih dari tiga bulan, sehingga jutaan barel pasokan energi hilang dari pasar. International Energy Agency mencatat bahwa pada puncaknya, lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak sempat terhenti, setara sekitar 14% dari permintaan global. Karena itu, setiap perkembangan terkait pembukaan kembali jalur ini langsung berdampak besar terhadap harga minyak.
Ke depan, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil. Jika arus kapal melalui Selat Hormuz semakin lancar dan pembicaraan AS-Iran terus membaik, tekanan harga minyak bisa berlanjut karena risiko pasokan menurun. Namun, jika pembahasan soal pengelolaan Hormuz menemui hambatan atau muncul kembali ketegangan di Lebanon dan kawasan Teluk, harga minyak dapat kembali menguat. Untuk saat ini, pasar lebih banyak membaca perkembangan terbaru sebagai sinyal meredanya risiko geopolitik.(yds)
Sumber: Newsmaker.id