Emas Pulih Tipis di Asia, PCE AS Jadi Ujian Arah Berikutnya
Harga emas bergerak naik tipis pada sesi Asia Jumat (13/3), setelah tertekan pada hari sebelumnya oleh penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Spot gold tercatat naik sekitar 0,3% ke US$5.095,55 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS turun tipis ke US$5.100,20, namun emas masih mengarah pada penurunan mingguan kedua beruntun.
Pemulihan intraday ini lebih banyak dibaca sebagai respons posisi jangka pendek ketimbang perubahan cerita besar. Di satu sisi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjaga permintaan safe haven, tetapi di sisi lain lonjakan harga energi kembali mengangkat kekhawatiran inflasi dan mengikis harapan pelonggaran kebijakan moneter, yang umumnya menjadi penopang emas.
Fokus fundamental pasar hari ini tertuju pada rilis inflasi PCE AS untuk Januari (data yang tertunda), karena menjadi referensi utama bagi jalur suku bunga The Fed. Reuters melaporkan pasar menilai kenaikan harga energi dapat memperumit ruang pemangkasan suku bunga, sehingga reaksi emas akan sangat sensitif terhadap apakah PCE mengonfirmasi tekanan inflasi yang “lebih lengket” atau mulai mereda.
Dari sisi suku bunga, tekanan kemarin datang seiring kenaikan yield, yang menaikkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,27% pada 12 Maret, level yang menjaga dolar tetap relatif solid dan membatasi ruang kenaikan emas jika kembali naik.
Secara teknikal, area US$5.090 menjadi support terdekat, dengan zona demand berikutnya dipantau di sekitar US$5.039 (berdekatan dengan 200-period EMA pada grafik 4 jam). Jika zona ini ditembus, perhatian pasar cenderung bergeser ke US$5.000 sebagai penyangga psikologis.
Sementara itu, resistance awal berada di sekitar US$5.160. Penembusan yang bertahan di atas area tersebut membuka ruang uji US$5.200 hingga US$5.230, namun kelanjutan penguatan masih bergantung pada respons dolar dan yield setelah data PCE dirilis.
Pasar akan memantau tiga variabel utama: kejutan data PCE (yang mengubah pricing suku bunga), arah imbal hasil US Treasury, dan dinamika harga energi terkait konflik Timur Tengah. Kombinasi ketiganya akan menentukan apakah pemulihan hari ini berlanjut atau kembali terbatas sebagai pantulan teknikal. Memasuki pekan depan, fokus bergeser ke rapat FOMC 17–18 Maret 2026 yang disertai proyeksi ekonomi (SEP), karena arah bahasa pernyataan dan dot plot berpotensi mengunci narasi “higher for longer” atau membuka ruang penurunan yield jika sinyal pelonggaran kembali muncul. Selain The Fed, kalender juga diperkirakan padat dengan sejumlah rilis data AS seperti retail sales, yang bisa mempengaruhi yield dan dolar, sehingga menjaga volatilitas emas tetap tinggi di sekitar area support- resistance yang sedang diuji.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id