Simak! Dolar Menang dari Emas Ini Pemicunya!
Pergerakan pasar di awal pekan ini terlihat “tidak biasa” bagi banyak orang: konflik geopolitik biasanya mendorong emas, tetapi yang terjadi justru dolar menguat sementara emas tertekan hingga saat perdagangan Asia (9/3) menyentuh $5014 per try ons. Kuncinya ada pada satu pemicu utama yang mengubah cara pasar membaca risiko, yakni lonjakan harga minyak yang sangat tajam.
Ketika minyak melonjak lebih dari 25% dalam sehari, pasar tidak lagi hanya memandang konflik sebagai risiko keamanan, melainkan sebagai risiko ekonomi yang bisa langsung menaikkan biaya hidup dan biaya produksi. Energi adalah komponen yang cepat menular ke inflasi, sehingga lonjakan minyak memicu kekhawatiran bahwa tekanan harga akan bertahan lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan. Hingga saat perdagangan Asia (9/3) menyentuh $199.14 per barel.
Dari sini jalur transmisinya menjadi jelas: ekspektasi inflasi naik membuat pasar menilai ruang pemangkasan suku bunga The Fed menyempit, bahkan suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama. Saat prospek suku bunga AS bergeser ke arah “higher for longer”, dolar cenderung menguat karena imbal hasil relatif AS menjadi lebih menarik dan permintaan aset aman juga mengalir ke greenback.
Dalam kondisi seperti ini, emas justru bisa tertekan meski ketidakpastian geopolitik meningkat. Ada dua alasan: pertama, emas tidak memberikan bunga, sehingga saat suku bunga dan dolar naik, daya tarik relatif emas melemah. Kedua, pada fase awal gejolak pasar, investor sering mencari likuiditas, dan emas termasuk aset yang mudah dijual untuk mendapatkan kas, terutama ketika volatilitas lintas aset meningkat.
Faktor geopolitik tetap menjadi latar utama yang menjaga ketidakpastian, termasuk konflik yang memasuki hari kesepuluh serta dinamika politik di Iran yang dipandang berpotensi menambah risiko eskalasi. Namun untuk harga emas dalam jangka pendek, pasar tampak lebih fokus pada dampak ekonomi dari energi mahal ketimbang narasi “safe haven” semata.
Variabel yang paling layak dipantau ke depan adalah apakah harga minyak tetap bertahan di level tinggi atau mulai mereda, karena itu akan menentukan arah ekspektasi inflasi dan suku bunga. Selain itu, pelaku pasar akan melihat kelanjutan penguatan dolar, respons The Fed terhadap risiko inflasi berbasis energi, serta perkembangan konflik yang memengaruhi stabilitas pasokan energi global—tiga faktor yang saat ini menjadi penentu utama arah XAU/USD.(asd)
Source: Newsmaker.id