Minyak Terkoreksi Tipis, Pasar Timbang “Risk Premium” Iran dan Ancaman Gangguan Pasokan
Harga minyak bergerak melemah tipis pada perdagangan hari ini, Selasa (10/2), setelah sempat naik lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Brent turun sekitar 0,26% ke $68,85/barel, sementara WTI melemah sekitar 0,33% ke $64,15/barel.
Pelemahan ini bukan karena pasar “tenang”, justru karena pelaku pasar sedang menimbang dua arus besar: di satu sisi ada risiko pasokan dari tensi AS–Iran, di sisi lain ada harapan bahwa pembicaraan nuklir yang dimediasi Oman bisa menahan eskalasi. Hasilnya, minyak jadi cenderung sideways dengan bias koreksi: naik kemarin karena headline risiko, lalu hari ini sebagian pasar memilih “ambil untung” sambil nunggu kelanjutan kabar.
Sumber “risk premium” utamanya masih dari jalur pelayaran strategis. Amerika Serikat baru saja mengeluarkan panduan terbaru untuk kapal komersial berbendera AS yang melintas di Selat Hormuz: diminta menjauh sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran dan menolak permintaan boarding secara verbal (namun tidak melawan jika boarding terjadi demi mencegah eskalasi). Selat Hormuz sendiri adalah “titik sempit” vital karena sekitar 20% transit minyak global melewati jalur ini.
Di saat yang sama, tekanan ekonomi ke Iran juga kembali jadi tema. Reuters melaporkan Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan dengan kebijakan tarif yang terkait perdagangan dengan Iran, sementara Teheran tetap menegaskan posisi tawar dalam isu nuklir dan isu-isu yang lebih luas. Ini bikin pasar sulit menilai: apakah tensi naik (mendorong minyak), atau justru negosiasi meredakan risiko (menahan kenaikan).
Faktor pasokan lain yang ikut “menggoyang” ekspektasi adalah arus minyak Rusia. Uni Eropa mengusulkan paket sanksi baru yang untuk pertama kalinya menyasar pelabuhan di negara ketiga yang menangani minyak Rusia—termasuk Kulevi (Georgia) dan Karimun (Indonesia). Kalau langkah ini mengganggu logistik atau layanan terkait pengapalan, pasar bisa kembali memasang risk premium, walau dampaknya tetap bergantung pada implementasi dan respons pelaku rantai pasok.
Dari sisi permintaan, ada sinyal pergeseran pembelian: India’s IOC dilaporkan membeli sekitar 6 juta barel dari Afrika Barat dan Timur Tengah, seiring upaya mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia dalam konteks relasi dagang dengan AS. Ini bukan langsung “mengerek” harga hari ini, tapi menambah narasi bahwa peta arus pasokan global lagi berubah.
Pasar juga mulai memposisikan diri jelang data persediaan mingguan AS. EIA Weekly Petroleum Status Report dijadwalkan rilis Rabu, 11 Feb 2026, dengan waktu standar 10:30 ET (sekitar 22:30 WIB). Angka stok (crude, gasoline, distillate) sering jadi pemicu volatilitas intraday, jadi wajar kalau hari ini minyak cenderung “waspada”.
Pandangan teknikal: range masih dominan, tapi level kunci makin jelas
Secara teknikal, WTI masih terlihat konsolidasi di tengah range, dengan area resisten sekitar $66 dan support sekitar $62 yang sering jadi acuan pelaku pasar untuk “buy on dip vs sell on rally”.
Namun beberapa analisis juga menyorot struktur yang mulai membaik: WTI disebut menembus garis tren turun jangka panjang dan bertahan di atas area moving average utama, sehingga bias jangka pendek bisa condong bullish kalau resistensi-resistensi kunci ditembus.
Untuk Brent, banyak pelaku pasar masih memperlakukan $70 sebagai “pagar besar” (resistensi psikologis/teknikal), sementara area $65–$66 kerap dibaca sebagai zona penyangga jika terjadi pullback.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id