Ultimatum Hormuz Gagal Redakan Pasar, Risiko Eskalasi Membesar
Iran memperingatkan pada Minggu bahwa pihaknya akan menyerang sistem energi dan air negara-negara tetangga di Teluk jika Presiden AS Donald Trump menepati ancaman untuk menghantam jaringan listrik Iran dalam 48 jam. Pernyataan ini memupus harapan de-eskalasi cepat, saat perang memasuki pekan keempat dan Selat Hormuz masih efektif tertutup bagi sebagian besar kapal, dengan prospek perlindungan angkatan laut untuk pelayaran dinilai kecil. Ketidakpastian ini menjaga premi risiko energi tetap tinggi karena pasar menilai eskalasi dapat meluas dari jalur pelayaran ke infrastruktur sipil dan pasokan utilitas kawasan.
Harga minyak kembali bergerak liar: Brent naik 0,6% ke US$112,89 per barel dan sudah 55% lebih tinggi sepanjang bulan ini, sementara WTI naik 0,9% ke US$98,98. Meski pasokan jangka pendek terbantu oleh izin AS untuk penjualan minyak Iran dan Rusia dari tanker, kurva harga menunjukkan kekhawatiran kekurangan jangka panjang—Brent September naik sekitar US$2 ke US$93,90. AMP memperingatkan minyak bisa menuju US$150 jika perang berlanjut dan kerusakan infrastruktur memperlambat pemulihan pasokan. HSBC menyoroti efek rambatan inflasi: avtur Singapura naik 175% tahun ini, LNG Asia naik 130%, bunker fuel melonjak, dan harga pupuk naik—kombinasi yang berpotensi mengerek biaya logistik dan harga pangan.
Harga minyak pada saat analisis ini di rilis berada pada level : $ 113.47
- Beli jika harga bergerak di bawah $ 108.47
- Jual jika harga bergerak di bawah $ 118.47
Resistensi 2: $ 114.68
Resistensi 1: $ 114.09
Support 1: $ 112.53
Support 2: $ 111.56
Perhatian: :
Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id