Minyak Tembus US$109, Hormuz Angkat Risiko Inflasi!
Harga minyak melonjak menembus US$100 per barel setelah Selat Hormuz dilaporkan hampir tertutup, sementara beberapa produsen Timur Tengah memangkas produksi. Brent sempat naik hingga 20% menjadi US$111,04 per barel (tertinggi sejak Juli 2022) dan WTI melonjak 22%, mendorong penurunan output Kuwait dan UEA, serta penutupan sebagian produksi Irak sejak pekan lalu di tengah kendala pengapalan dan lonjakan stok.
Skenario dasar pasar beralih ke “energi lebih mahal lebih lama” yang meningkatkan risiko inflasi dan memperkecil ruang pemangkasan suku bunga, dengan tekanan ikut terlihat pada harga bensin ritel AS yang mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024. Skenario alternatifnya, premi risiko mengurangi bila pengapalan Hormuz pulih dan eskalasi turun; namun risiko condong ke atas bila konflik meluas atau gangguan infrastruktur berlanjut. Fokus pemantauan: status Hormuz, arah produksi Timur Tengah, arus tanker dan kapasitas penyimpanan, pergerakan bensin AS, serta respon kebijakan pemerintah dan bank sentral.(asd)
Harga minyak pada saat analisis ini adalah $109,50
- Beli jika harga bergerak di bawah $109,14
- Jual jika harga bergerak di bawah $106,66
Resistensi 2: $112.54
Resistensi 1: $110,06
Dukungan 1: $105,10
Dukungan 2: $102,62
Penafian:
Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id (asd)